KORANJURI.COM – Wakil Presiden Senior dan Ketua Eksekutif Konservasi Indonesia Meizani Irmadhiany mengungkap, 90 persen sampah plastik yang bermuara di laut berasal dari darat.
Menurutnya, konektifitas di darat akan sangat penting untuk laut yang bersih. Sumber pencemaran dan tata kelolanya menurut Meizani, semua berbasis di darat.
Dirinya mendorong lebih banyak aksi nyata yang dikerjakan. Mengingat, dampak yang terjadi berujung di laut yang akan menampung sampah-sampah dari daratan.
“Tugas kita saat ini adalah menjaga konektifitas untuk penanganan sampah di darat dan laut,” kata Meizani di Nusa Dua, Bali, Minggu, 7 Juni 2026.
Dirinya mengingatkan, peringatan World Ocean Day and Coral Triangle Day, untuk menjaga kesadaran, bahwa laut punya peran sangat penting dan harus dijaga tetap sehat.
Indonesia menjadi negara dengan terumbu karang paling besar di dunia, dengan keanekaragaman hayati tinggi mencapai 70 persen.
“Yang paling utama, terumbu karang yang ada di Indonesia dan kondisi lautnya sangat terdampak dengan aktifitas yang ada di darat,” ujarnya.
Chief Conservation Officer Yayasan WWF Indonesia Dewi Lestari Yani Rizki mengatakan, bagi Indonesia, laut bukan hanya bentangan pemisah pulau tapi beranda Indonesia.
Segitiga terumbu karang menjadi rumah bagi jutaan nelayan yang menyokong ketahanan pangan nasional.
“Kami betul-betul memastikan pekerjaan di darat dengan menggandeng pemerintah daerah, untuk mengurangi kebocoran sampah di sungai ke laut,” kata Dewi.
Menurutnya, ancaman terhadap laut semakin nyata. Pencemaran sudah terjadi dan laut berkejaran dengan waktu menghadapi perubahan iklim, pencemaran plastik dan degradasi habitat.
“Pulau dewata menjadi episentrum keanekaragaman hayati dan jantung maritim dunia. Peringatan hari laut sedunia dan hari segitiga coral ini digelar di Bali menuju Ocean Impact Summit,” kata Dewi. (Way)





