KORANJURI.COM – Coop Coffee Foundation memberikan pendampingan kepada perempuan petani Kopi Arabika Kintamani dalam pelatihan penghitungan karbon.
Literasi mencakup pemahaman menghitung Nilai Ekonomi Karbon (NEK) berbasis sistem pertanian agroforesti dan penghitungan di lapangan pada 21 dan 28 Agustus 2026.
Program Manager Blended Finance Scheme Coop Coffee Foundation Sascha Poespo mengungkap, karbon mulai diperkenalkan sebagai bagian penting dari nilai yang tersimpan di dalam kebun kopi di Desa Ayah Catur, Kintamani.
BERITA LAIN
Peluang Nilai Tambah Petani Kopi Kintamani Lewat Perdagangan Karbon
“Kami memberikan edukasi dasar mengenai karbon kepada perempuan petani kopi Desa Catur. Termasuk, pengenalan mengenai apa itu NEK, mengapa karbon penting bagi pertanian, serta bagaimana melakukan perhitungan karbon secara manual dari area kebun kopi,” kata Sascha, Minggu, 25 Agustus 2026.
Menurutnya, sistem agroforestri di perkebunan kopi Desa Catur, Kintamani, punya peran dalam menyimpan dan menyerap karbon. 24.000 hektar lahan hutan wanatani yang ada saat ini baru akan dimanfaatkan sekitar 600 hektar untuk perdagangan karbon.
Pemanfaatan carbon trading tidak merusak ekosistem, justru memperbaiki lingkungan melalui perawatan dan replanting lahan-lahan yang rusak. Mengingat, daya kemampuan tanaman menyerap karbon dioksida akan optimal jika tanamannya dirawat secara organik tanpa bahan kimia.
“Potensi tanaman menyerap karbon dapat diukur dan dicatat berdasarkan kondisi nyata di lapangan,” ujarnya.
Karbon bukan sesuatu yang jauh dari petani. Karbon ada di kebun mereka. Karbon ada di pohon yang mereka tanam, di tanah yang mereka jaga, dan di sistem agroforestri yang mereka rawat.
Perempuan petani memiliki peran besar dalam aktivitas pertanian, mulai dari pemeliharaan tanaman, pengelolaan kebun, pengolahan hasil, hingga pengambilan keputusan di tingkat keluarga dan komunitas.
Ketua PKK Desa Ayah Catur, Kintamani, Bangli, Ana Setyowati mengatakan, perempuan di Desa Ayah Catur, menjadi tulang punggung dalam sistem agroforestri pertanian Kopi Arabika Kintamani.
“Kami ingin para perempuan di sini memiliki pengetahuan tentang pengelolaan karbon. Rutinitas kami di sini merawat kebun kopi, tapi dengan adanya potensi perdagangan karbon ini, akan ada bonus, nilai tambah di luar hasil pertanian, kami harapkan begitu,” jelas Ana.
Para perempuan itu tergabung dalam Kelompok Tani Arabika Catur, Subak Abian Lalang, Banjar Catur, Desa Catur, Kecamatan Kintamani, Bangli. Jumlah anggotanya sebanyak 113 orang.
Aktifitas kaum ibu Desa Ayah Catur, kata Ana, secara rutin melakukan pemupukan organik setiap bulan. Untuk tanaman kopi yang sudah dewasa dan produktif, perawatan dilakukan 6 bulan sekali.
“Kalau untuk kopi secara garis besarnya, perawatan paling ringan di antara perkebunan, dibandingkan dengan jeruk,” jelas Ana.
Kegiatan di Desa Ayah Catur merupakan bagian dari membangun literasi untuk petani dalam menghadapi perubahan ekonomi dan lingkungan. Pengelolaan karbon menjadi salah satu indikator penting keberlanjutan.
Nilai perdagangan karbon dihitung dari 1 ton karbindioksida yang terserap, setara dengan 1 kredit karbon. Perdagangan kredit karbon itu juga bergantung pada kemampuan luas suatu lahan dapat menyerap karbondioksida di alam.
Founder Heal Bumi Gilar Prakoso menjelaskan, alur perdagangan karbon dimulai dari petani atau masyarakat yang mengelola hutan untuk tujuan menyerap karbon.
Petani atau masyarakat yang mengelola hutan atau pertanian, selanjutnya merawat tanaman dengan menerapkan praktik regeneratif, agroforestri dan perlindungan hutan.
“Jumlah pengurangan atau penyerapan karbon diukur dalam ton CO2e,” kata Gilar, Jumat (21/8/2026). (Way)





