KORANJURI.COM – Jejaring Enterpreneur Ngardi Rahayu (Jenar) menjadi konsep pembentukan ekosistem pengusaha UMKM di kawasan Nusa Dua.
Ekosistem pengusaha skala kecil menengah itu mendapatkan dukungan dari Koperasi Ngardi Rahayu di Desa Bualu, Kuta Selatan, Badung.
General Manager Koperasi Ngardi Rahayu I Putu Candra Satyastina mengatakan, Jenar adalah pilot project yang akan menggerakkan usaha melalui wadah Koperasi.
“Terutama, untuk para pengusaha UMKM yang ada di kawasan Nusa Dua dan sekitarnya. Selama ini yang kami lihat, pengusaha ini berjalan sendiri-sendiri. Harapannya, peluang yang ada di Nusa dan sekitarnya ini juga dapat dinikmati para enterpreneur lokal,” kata Candra di Nusa Dua, Sabtu, 18 Juli 2026.
Dengan kesiapan Koperasi Ngardi Rahayu memberikan dukungan finansial, Candra berharap, nantinya bukan hanya akan terbentuk usaha baru. Tapi juga meningkatkan kemampuan pengusaha dalam mengelola bisnisnya.
Jenar, menurut Candra, menjadi sebuah pemantik bagi pengusaha untuk meningkatkan skala usahanya. Koperasi Ngardi Rahayu saat ini mengelola kapital hingga Rp107 miliar.
Melalu inisiasi ekosistem ‘Kawan Jenar’ pengurus bukan hanya mendukung dari sisi permodalan tapi juga pendampingan usaha. Candra mengatakan, semangat soko guru tumbuh bersama dan menjadi mesin pendorong untuk para anggotanya.
“Kita perlu push lagi limit kita agar menjadi pengusaha yang lebih besar lagi,” kata Candra.
Sementara, Dewan Pakar Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bali I Gusti Ngurah Ardita melihat, masih banyak peluang usaha yang dapat dikembangkan di kawasan Nusa Dua dan sekitarnya.
Bukan hanya kebutuhan pasokan untuk 5.000 kamar di kawasan ITDC saja, tapi usaha baru yang belum dikembangkan juga masih terbuka luas.
“Forum ini cukup bagus untuk mendiskusikan bagaimana bisa masuk dalam peluang besar yang ada di Nusa Dua dan sekitarnya ini,” kata Ngurah Ardita.
Di sisi lain, Ardita juga menyoroti kesiapan yang dibutuhkan untuk menjadi pemain dalam industri pariwisata di kawasan Selatan Bali itu. Dirinya tidak menampik masih adanya kendala yang dihadapi para pelaku UMKM.
Terutama, untuk kualitas produk hingga keberlanjutan supply dan demand. Setidaknya kontinuitas permintaan dari industri pariwisata dapat terpenuhi terlebih dulu.
“Tinggal bagaimana penguatan UMKM itu sendiri. Industri umumnya tidak berbicara soal harga murah tapi apakah harga itu wajar. Saya melihat, kendala itu sudah direspon oleh para pelaku usaha untuk menjadi lebih vaik,” kata Ngurah Ardita. (Way)





