Kenaikan Harga Bahan Bangunan dan Tingginya DP KPR Bikin Rumah di Bali Sulit Didapat

oleh
Foto ilustrasi properti perumahan - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Kenaikan penjualan harga rumah di Bali jadi kendala pengembang perumahan. Peningkatan harga properti residensial primer di Bali antara lain disebabkan oleh sejumlah faktor.

Suku bunga KPR sebesar 13,48 persen, menjadi beban tinggi untuk pengajuan kepemilikan rumah. Sedangkan faktor lain yang mempengaruhi kenaikan harga rumah yakni, kenaikan harga bahan bangunan sebesar 23,62 persen dan proporsi uang muka yang tinggi dalam pengajuan KPR sebesar 10,89 persen.

Kepala Perwakilan wilayah Bank Indonesia Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja mengatakan,
peningkatan harga properti residensial pada triwulan I – 2024 diperkirakan dipengaruhi oleh kenaikan harga bahan bangunan.

“Peningkatan harga properti residensial tercermin dari perkembangan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) triwulan I 2024, tumbuh sebesar 1,48 persen (yoy), dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya,” jelas Erwin, Sabtu, 1 Juni 2024.

Survei Harga Properti Residensial (SHPR) yang dilakukan Bank Indonesia Provinsi Bali menunjukkan, Perbankan memberikan pembiayaan sebesar 45 persen, dana internal pengembang sebesar 43,75 persen dan sisanya dari dana konsumen.

Dari sisi konsumen, skema pembiayaan pembelian rumah primer mayoritas menggunakan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dengan pangsa sebesar 76,92 persen dari total penjualan.

“Selain itu, kenaikan harga properti residensial juga dipengaruhi oleh meningkatnya
penjualan rumah di pasar primer selama triwulan I 2024, yang masih tumbuh sebesar 14% (yoy),” kata Erwin.

“Terutama ditopang oleh penjualan tipe rumah kecil dan besar. Pertumbuhan itu melambat jika dibandingkan triwulan sebelumnya
yang tumbuh 21 persen (yoy),” tambahnya.

SHPR merupakan survei triwulanan terhadap sampel pengembang proyek perumahan di Provinsi Bali.

Sementara, BI juga mencatat, Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) triwulan I tahun 2024 tumbuh sebesar 1,48 persen (yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Peningkatan ini didorong oleh kenaikan harga properti tipe kecil dengan luas bangunan ≤36 m2, menengah dengan luas bangunan antara 36 m2 sampai dengan 70 m2 dan besar dengan luas bangunan > 70 m2.

Harga tipe kecil meningkat sebesar 1,77 persen (yoy), tipe menengah 2,13 persen (yoy) dan tipe besar 1,07 persen (yoy). Peningkatan itu lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya yang masing-masing meningkat sebesar 0,90 persen (yoy), 0,19 persen (yoy) dan 0,33 persen (yoy). (Way)

KORANJURI.com di Google News