KORANJURI.COM – Bank Indonesia Provinsi Bali mencatat penurunan harga properti komersial di Triwulan I 2026. Harga di awal tahun merosot sebesar 5,85% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Dalam periode quarter to quarter properti komersial di Bali juga anjlok di angka -6,81% dibandingkan triwulan sebelumnya.
Kepala Kantor Perwakilan wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali Achris Sarwani mengatakan, kondisi itu berbanding terbalik dengan akhir tahun 2025 pada triwulan IV.
Harga properti saat itu sempat tumbuh positif sebesar 0,68% (yoy).
“Penurunan harga dipicu karena dipicu faktor musiman dan koreksi harga di dua sektor terutama, hotel dan ritel sewa,” kata Achris di Denpasar, Selasa, 19 Mei 2026.
Penurunan harga hotel menurut Achris, terjadi akibat ketatnya persaingan bisnis dan tingginya sensitivitas wisatawan domestik terhadap harga.
Bank Indoensia mencatat, ritel sewa turun tipis sebesar -0,17% (yoy). Sedangkan, tarif hotel terjun bebas di angka sebesar -6,27% (yoy).
Dikatakan, penurunan minat itu terjadi di hampir semua lini akibat perubahan perilaku konsumen. Lesunya harga tercermin dalam indeks permintaan properti komersial Bali yang anjlok hingga -9,27% (yoy).
“Banyak penyewa kini beralih memilih ruang kerja fleksibel demi efisiensi biaya,” ujar Achris.
Untuk akomodasi perhotelan, permintaan kamar turun -15,02% yoy akibat tidak meratanya distribusi tamu. Ditambah lagi, kunjungan segmen pemerintah menurun, dan konflik geopolitik untuk wisatawan mancanegara.
Apartemen sewa juga merosot -5,99% yoy. Length of stay atau masa tinggal menyusut dari 6-12 bulan menjadi hanya 1-2 bulan. Konsumen apartemen memiliki banyak pilihan beragam seperti vila atau resor yang menawarkan fasilitas lebih lengkap.
Kebalikan dengan properti komersial yang lesu. Untuk ritel sewa justru tumbuh sebesar 13,49% (yoy). Hal ini didorong oleh ekspansi masif dari jaringan waralaba internasional di bidang kuliner serta toko hobi.
“Untuk mendukung pertumbuhan properti komersial yang berkualitas, Bank Indonesia mendorong pembiayaan perbankan melalui kebijakan insentif likuiditas makroprudensial,” jelas Achris Sarwani. (Way)





