Jadi Yatim Piatu Akibat Covid-19, 265 Anak di Bali Terima Bantuan Sosial

    


Anak-anak yang masuk dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) Provinsi Bali menerima bantuan dari pemerintah - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Data UNICEF menyebutkan, secara nasional anak yang menjadi yatim piatu akibat orangtuanya direnggut covid-19 mencapai 20.887 anak. Sedangkan di Bali, jumlahnya ada 265 anak.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga mengatakan hal itu ketika berada di Bali, Sabtu (11/9/2021). Dari verifikasi yang dilakukan, 234 anak dalam kondisi membutuhkan bantuan cepat.

“Ada yang masuk dalam pengasuhan keluarga atau kerabat dekat. Namun tetap harus dipastikan, anak-anak terutama yang yatim piatu harus ditangani secara tepat,” kata Bintang Puspayoga.

Di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Bintang menyerahkan bantuan secara simbolis kepada 5 orang anak dan 2 perempuan yang kehilangan tulang punggung keluarga akibat covid-19.

Bantuan yang disalurkan terbagi untuk wilayah Denpasar meliputi 24 paket untuk anak dan 8 paket bantuan untuk perempuan. Kabupaten Gianyar ada 44 paket untuk anak dan 25 paket bantuan untuk perempuan. Kabupaten Jembrana 66 paket bantuan anak dan 43 paket bantuan perempuan.

Kabupaten Tabanan 4 paket bantuan untuk anak, Karangasem 38 paket bantuan anak dan 17 paket bantuan perempuan, dan Kabupaten Buleleng 2 paket bantuan anak dan 1 paket bantuan perempuan.

Sedangkan untuk kabupaten Bangli disalurkan 28 paket bantuan anak dan 15 paket bantuan perempuan. Kabupaten Badung 5 paket bantuan anak dan 4 paket bantuan perempuan. Kabupaten Klungkung 23 paket bantuan anak dan 8 paket bantuan perempuan.

Sementara, Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra mengatakan, anak-anak yatim piatu itu akan dijamin pemenuhan kebutuhan hidup, kesehatan dan fasilitas pendidikannya. Anak-anak kurang beruntung itu masuk Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

“Kita harus proaktif untuk memfasilitasi dan nemastikam target akomodasi anak-anak ini dengan menjamin kesehatan dan pendidikannya,” jelas Dewa Indra. (Way)