KORANJURI.COM – Mengantisipasi dampak musim kemarau ekstrem tahun 2026 yang diprediksi berlangsung lebih panjang akibat fenomena El Nino, Pemerintah Kabupaten Purworejo resmi meluncurkan dropping perdana bantuan air bersih.
Kegiatan pelepasan armada tangki air ini berlangsung di halaman Pendopo Kabupaten Purworejo pada Kamis pagi (02/07/2026).
Pelepasan simbolis dilakukan oleh Plh Sekda Kabupaten Purworejo, dr. Tolkha Amaruddin, yang mewakili Bupati Purworejo.
Dalam sambutannya, Tolkha menegaskan komitmen pemerintah untuk hadir di tengah masyarakat dan memastikan kebutuhan dasar air bersih tetap terpenuhi selama masa krisis.
“Musim kemarau tahun 2026 diperkirakan lebih kering dan panjang dibanding normalnya. Kondisi ini menuntut kesiapsiagaan serta langkah cepat dari seluruh pihak,” ujar dr. Tolkha Amaruddin.
Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih bijaksana dalam menggunakan air serta menjaga kelestarian sumber air di lingkungan masing-masing.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Purworejo, Muhammad Yuniarto, dalam laporan penyelenggaraannya memaparkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Kabupaten Purworejo diprediksi akan mengalami musim kemarau selama 14 hingga 18 dasarian (sekitar 4,5 hingga 6 bulan), dengan puncak kekeringan terjadi pada bulan Agustus.
“Kondisi iklim yang kering ini berpeluang memicu fenomena El Nino yang diprediksi bisa bertahan hingga awal tahun 2027,” jelas Yuniarto.
Secara bertahap sejak April hingga Juni, kemarau telah mulai melanda 16 kecamatan di Purworejo. Guna mengoptimalkan pelayanan, BPBD Purworejo bahkan telah mengusulkan penambahan anggaran air bersih melalui perubahan APBD tahun 2026.
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Purworejo, Wasit Diono, S.Sos., mengungkapkan bahwa sebagai langkah awal, BPBD langsung menyuplai 15.000 liter air bersih (menggunakan 3 armada tangki kapasitas @5.000 liter) ke Desa Somorejo, Kecamatan Bagelen. Bantuan ini ditujukan untuk mencukupi kebutuhan 762 KK di tiga dusun.
Wasit menegaskan bahwa masyarakat yang wilayahnya mulai mengalami kelangkaan air bersih dapat mengajukan permohonan dengan sangat mudah.
“Prosesnya mudah, bisa lewat telepon atau bersurat melalui pemerintah desa. Setelah ada laporan, Tim Reaksi Cepat (TRC) akan langsung melakukan asesmen lapangan dan memastikan tempat penampungan steril sebelum air didrop,” kata Wasit.
Untuk menghadapi musim kemarau tahun ini, BPBD Purworejo memastikan ketersediaan pasokan air dalam kondisi aman, yakni dengan menyiapkan stok kurang lebih 7 juta liter air. Selain itu, tersedia 4 unit mobil tangki siap beroperasi.
Selain krisis air bersih, suhu panas ekstrem juga meningkatkan risiko kebakaran lahan dan hutan. BPBD Purworejo telah menggelar rapat koordinasi dengan TNI, Polri, Dinas Pertanian, Satpol PP, hingga Perhutani.
Posko induk penanganan disiagakan di kantor BPBD, sementara Perhutani diperkuat untuk mengaktifkan posko pantau dan patroli di kawasan hutan.
Wasit Diono mengimbau warga Purworejo untuk tidak sembarangan membakar sampah dan meminta para perokok agar tidak membuang puntung rokok sembarangan di area kering.
Guna menjaga kondisi fisik di tengah cuaca panas ekstrem, masyarakat juga disarankan membatasi aktivitas luar ruangan yang tidak mendesak dan memperbanyak konsumsi air putih agar terhindar dari dehidrasi.
“Untuk pelayanan kedaruratan, petugas TRC BPBD Purworejo bersiaga penuh selama 24 jam penuh untuk melayani masyarakat,” pungkasnya.(Jon)





