Dari Festival Jatiluwih Ada Cerita Empu Kuturan dan Warisan Subak 1.000 Tahun Lalu

oleh
Bupati Kabupaten Tabanan I Komang Gede Sanjaya (tengah) bersama Manajer Operasional DTW Jatiluwih John Purna (kiri) saat Festival Jatiluwih Ke-5 - foto: dok./Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya membuka Festival Jatiluwih Ke-5, Sabtu, 6 Juli 2024. Kearifan lokal budaya agraris masyarakat di Desa Adat Jatiluwih ditampilkan dalam event tersebut.

Warga berpartisipasi dengan menyiapkan kuliner dari hasil produk pertanian yang mereka kelola. Beras merah organik yang jadi andalan Desa Wisata Jatiluwih diolah menjadi beragam menu.

BACA JUGA
Bupati Tabanan Ungkap Alasan Mengapa Jalan Subak di Jatiluwih Sempit

Kuliner khas masyarakat desa adat Jatiluwih itu disajikan di setiap booth yang terbuat dari bambu.

“Saya tadi sempat tanya ke ibu-ibu, kalau nebuk padi sehari bisa berapa kilo, jawabnya, bisa sampai 10 kg dan bisa dikonsumsi untuk lima hari,” ujar Gede Sanjaya.

Prosesi tanam padi di sawah berundak DTW Jatiluwih – foto: dok./Koranjuri.com

Sanjaya mengatakan, Subak Jatiluwih merupakan warisan budaya dunia yang diakui oleh UNESCO pada tahun 2012. Sistem pengairan itu sudah berlangsung sejak 1.000 tahun lalu.

“Heritage ini diwariskan secara turun temurun sejak Empu Kuturan sebagai konseptornya. Karena warisan sistem subak itu maka UNESCO mengakui sebagai warisan budaya dunia,” jelasnya.

“Tatanan hidup di Jatiluwih ini sudah ada sejak jaman Empu Kuturan,” tambah Komang Gede Sanjaya.

Festival yang digelar di daerah tujuan wisata sawah berundak itu, digelar bertepatan usai panen padi. Jika umumnya para wisatawan disuguhi hamparan padi yang sangat luas, kini mereka dapat menikmati pola tradisional menanam kembali tanaman padi.

Menghijaukan kembali areal persawahan dengan luas mencapai 19 hektar itu bakal menjadi atraksi menarik untuk wisatawan.
Manajer Operasional DTW Jatiluwih I Ketut Purna atau John Purna mengatakan, setiap aktifitas di sawah selalu ditentukan oleh hari baik atau duasa.

Seperti dikatakan, pada saat panen, masyarakat petani di Desa Adat Jatiluwih juga menggelar ritual penghormatan kepada Dewi Sri, dewi simbol kemakmuran. Saat kembali menanam, juga ada aktifitas seperti membajak sawah, mencangkul hingga menanam benih padi.

“Setiap ada event di Desa Jatiluwih kami selalu melibatkan masyarakat, sehingga masyarakat bisa ikut menikmati apapun kegiatannya,” kata John Purna.

John menjelaskan, Keberadaan Jatiluwih yang telah mendunia diharapkan berdampak pada kesejahteraan masyarakat. Festival yang digelar menjadi salah satu cara mengangkat potensi yang ada di desa Jatiluwih. (Way)

KORANJURI.com di Google News