Bupati Tabanan Ungkap Alasan Mengapa Jalan Subak di Jatiluwih Sempit

oleh
Festival Jatiluwih Ke-5 - foto: Ist./Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya mengatakan, Jatiluwih yang diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia, sebagai warisan leluhur masa lalu.

Dari jaman Empu Kuturan, 1.000 tahun lalu, landscape Jatiluwih telah terbentuk dengan fungsi subak yang berjalan seperti sekarang.

BACA JUGA
Dari Festival Jatiluwih Ada Cerita Empu Kuturan dan Warisan Subak 1.000 Tahun Lalu

“Sebelum ditetapkan heritage oleh UNESCO. Leluhur masa lalu kan tidak memikirkan akan ada bus kesini, itu dulu,” kata Komang Gede Sanjaya usai membuka Festival Jatiluwih ke-5, Sabtu (6/7/2024).

Namun, dalam perjalanannya, subak Jatiluwih menjadi salah satu destinasi wisata unggulan di Kabupaten Tabanan. Badan PBB bidang keilmuan dan kebudayaan, UNESCO, kemudian menetapkan sebagai warisan budaya dunia di tahun 2012.

“Bayangkan 1.000 tahun lalu kan tidak mikir bikin jalan lebar, ada bus datang kesini. Ini memang jalan subak, warisan leluhur, jalan subak pasti kecil di Bali. Tidak ada jalan subak itu besar, pasti kecil,” ujarnya.

Sanjaya mengakui dengan infrastruktur di Jatiluwih yang belum memadai, terutama parkir, membuat pengelola kelabakan. Dengan persiapan pembangunan area parkir di obyek wisata alam itu, dirinya berharap persoalan parkir dapat terurai.

Ditambah lagi, pengelola DTW Jatiluwih telah menyiapkan armada pengumpan berupa bus bus listrik dan kendaraan boogie untuk antar jemput wisatawan.

“Yang jelas saya sudah sampaikan, saya sudah paham apa yang jadi kebutuhan di sini, astungkara dalam waktu dekat kita rapatkan bersama seluruh pemangku kepentingan,” jelasnya.

Obyek wisata Jatiluwih tengah berbenah dengan melengkapi infrastruktur pendukung. Gerbang Jatiluwih yang akan jadi ikon, dibangun berdasarkan konsep struktur Tri Bhuana. Suatu aspek yang mendalam dalam pandangan dan perencaan tata ruang di Bali.

Manajer Operasional DTW Jatiluwih I Ketut Purna atau John Purna mengatakan, Tri Bhuana menciptakan struktur ruang yang terdiri dari tiga bagian yakni, Bhur Loka alam paling bawah mencakup bumi dan lingkungan.

Bhuwah Loka adalah alam tengah yang merupakan tempat roh suci. Bagian tengah dilengkapi dengan patung burung garuda atau Jatayu sebagai simbol dimensi antara bumi dan sorga. Swah Loka adalah alam atas tempat para Dewa.

“Burung Jatayu berkaitan erat dengan nama desa Jatiluwih. Konon ceritanya, nama Jatiluwih berasal dari kata Jaton dan Luwih. Jaton artinya jimat sedangkan Luwih artinya bagus,” kata John Purna.

Dikatakan, Jatiluwih Gate dibuat disertai harapan penyeimbang seluruh elemen untuk menghasilkan kesejahteraan. (Way)

KORANJURI.com di Google News