KORANJURI.COM – Selama tiga hari pasca soft opening Sira Village Grand Outlet Bali menyedot lebih dari 60 ribu pengunjung. Outlet pertama di Bali itu berdiri di atas lahan seluas 4,5 hektar di kawasan ekonomi khusus (KEK) Kura Kura.
“Jumlah kunjungan bukan hanya sekedar angka, tapi pembuktian dalam membangun ruang yang menyatukan alam, budaya, dan masyarakat,” kata Presiden Direktur PT Grand Outlet Bali Tantowi Yahya.
Konsep grand outlet mall itu mengutamakan produk lokal, hemat energi dan menggunakan material daur ulang. Ke depan, setelah beroperasi secara penuh, kata Tantowi, perbelanjaan moderen itu akan menyerap 1.000 tenaga kerja.
Beroperasinya investasi senilai Rp1,5 triliun itu, diawali dengan eksibisi pop-up berlangsung selama sebulan. Ada 37 karya desainer, seniman lukis, hingga artisan UMKM. 70% di antaranya merupakan talenta kreatif yang berbasis di Bali.
Di salah satu etalase, sebuah tas modern nan stylish dirancang dengan desain kosmopolitan. Tapi, satu detail kecil tak pernah ditinggalkan, gantungan berbentuk Barong sebagai penegasan identitas Bali.
Di sudut lain, sepasang kacamata terbuat dari papan skateboard bekas dan sebuah tas yang desainnya terinspirasi dari bentuk ikan buntal, dipajang dengan menonjolkan nilai artistik.
Tas itu dibuat dari plastik daur ulang menggunakan teknik shibori.
Tak hanya itu, ada juga produk urnitur second living yang memanfaatkan kayu-kayu tua yang diolah menjadi produk interior yang stylish.
Founder & Artistic Director ICAD Diana Nazir mengatakan, pameran mengusung tema nasional ‘Being Becoming’ ICAD 2026′.
“Nilai budaya tidak selalu harus dihadirkan dalam bentuk pertunjukan tarian, tapi bisa dalam bentuk perangkat yang digunakan dalam keseharian,” kata Diana.
Pameran Seni Berkelanjutan
Kehadiran ICAD di Sira Village jadi komitmen keberlanjutan yang diusung KEK Kura Kura Bali. Sustainibility yang ada mengedepankan pariwisata dan ekonomi kreatif berbasis lingkungan.
Kepala Departemen Komunikasi KEK Kura Kura Bali Zefri Alfaruqy mengatakan, kolaborasi dengan ICAD bukan sekadar menghadirkan pameran seni.
Tapi, bentuk nyata dari visi KEK Kura Kura Bali sebagai kawasan yang tumbuh berdampingan dengan nilai-nilai keberlanjutan dan budaya lokal.
“Kami ingin setiap sudut Sira Village bercerita, dan ICAD membantu kami menyampaikan cerita itu lewat karya para desainer dan seniman terbaik Indonesia,” kata Zefri.
Bagi ICAD, melangkah ke ruang ritel komersial seperti Sira Village menjadi momentum berharga untuk memperluas jangkauan edukasi publik sekaligus membuka akses pasar baru bagi para seniman.
“Ini menjadi tantangan tersendiri buat kami, karena biasa bergerak di galeri atau museum yang bukan ruang hard sale. Namun, hal yang sangat menyenangkan,” jelas Zefri.
Pameran ICAD 2026 di Sira Village berlangsung selama dua bulan ke depan. Tentang waktu yang cukup panjang itu untuk memberikan kesempatan bagi wisatawan domestik maupun mancanegara untuk menikmati karya seni berkelas.
“Sekaligus ikut mengapresiasi narasi keberlanjutan di balik setiap produk desainer Indonesia,” jelas Zefri Alfaruqy. (*/Way)





