KORANJURI.COM – Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kura Kura Bali berkomitmen mengoptimalkan kawasan agar tetap produktif, hijau dan berdayaguna.
Untuk mewujudkan tujuan berkelanjutan itu, PT Bali Turtle Island Development (BTID) menggandeng Komunitas Nukari Desa Serangan.
Kerja bareng itu memanfaatkan lahan daratan dan kolam untuk planting program dan floating garden.
KEK Kura Kura Bali berperan memfasilitasi ketersediaan area dan Komunitas Nukari Desa Serangan sebagai pelaksana teknis yang menjalankan program tersebut.
I Wayan Darmaja dari komunitas Nukari mengatakan, sejumlah area sudah ditanami dengan berbagai jenis tanaman pangan. Setelah tiga bulan, kini sudah menunjukkan hasilnya.
“Kita tanam dengan berbagai tanaman seperti pisang, ketela rambat, ubi kayu, kunyit, sayuran hingga cabai. Hasilnya sudah terlihat dan kita bagikan dengan teman-teman di Nukari,’’ kata I Wayan Darmaja, Kamis, 19 Februari 2026.
Tanaman produktif itu sudah tumbuh dan hidup berdampingan dengan 700 ribu tanaman lainnya yang berada di kawasan KEK Kura Kura Bali.
Pertumbuhan alami tanpa pupuk kimia menjadi salah satu keunggulan buah yang dihasilkan. Hal ini terjadi, karena di sekitaran tanaman juga ditanam serai, yang berfungsi sebagai pestisida nabati.
Selain pemanfaatan lahan darat, KEK Kura Kura Bali dan Nukari juga memperkenalkan floating garden atau taman terapung di kolam seluas 1.713 meter persegi.
kolaborasi ini mengubah fungsi kolam yang sebelumnya dekoratif, menjadi area produktif dan memperkaya ekosistem ruang terbuka hijau.
Dengan kadar salinitas yang rendah dan pergerakan air yang stabil, kolam ini menjadi lokasi ideal untuk pengembangan percontohan budidaya tanaman terapung.
“Kondisi lingkungan yang mendukung ini memungkinkan Komunitas Nukari untuk mengeksplorasi berbagai jenis tanaman yang adaptif di media air,” kata I Wayan Darmaja.
Saat ini, kata Wayan Darmaja, ada 6 unit media tanam yang dikembangkan sebagai prototipe program. Jika dengan metode itu tanaman tumbuh dengan baik, maka akan dikembangkan di area yang lain.
‘’Itu sistemnya kita survei dulu, apa saja tanaman yang bisa tumbuh di kolam. Setelah itu kita tanami rumput lilin dan tanaman pisang-pisangan. Kita juga mencoba tanaman buah,” ujarnya.
Selain itu, uji coba juga dilakukan dengan tanah padi dwngan metode sama. Darmaja mengatakan, pemanfaatan lahan itu akan membuka potensi ekonomi baru untuk masyarakat sekitar.
“Saya pribadi sudah merasakan manfaatnya. Di sini, kami dibimbing dan sangat terbantu melalui pengembangan local champion,” jelasnya.
Kepala Departemen Komunikasi PT Bali Turtle Island Development (BTID) Zefri Alfaruqy menambahkan, kolaborasi dengan masyarakat sekitar menjadi bagian penting dari pengembangan KEK Kura Kura Bali.
“Kolaborasi ini cerminan dari semangat tumbuh bersama, antara KEK Kura Kura Bali bersama masyarakat sekitar,” kata Zefri.
Fokus perusahaan menurutnya, tidak semata pada pemanfaatan dan produktivitas lahan, tapi juga pada pemberdayaan masyarakat secara luas.
Termasuk, penyerapan tenaga kerja lokal agar manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh warga Desa Serangan dan sekitarnya.
“Sinergi ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem yang berkelanjutan, alam, teknologi, dan masyarakat lokal dapat terus hidup berdampingan secara harmonis,” kata Zefri. (*/Way)






