Shohibul Menara SMPN 34 Purworejo, Cetak Pemain Bola Unggulan

    


Tim sepakbola Sohibul Menara SMPN 34 Purworejo - foto: Sujono/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – SMPN 34 Purworejo, yang beralamat di Desa Ketawangrejo, Kecamatan Grabag, ternyata memiliki potensi di bidang sepakbola.

Sekolah ini memiliki tim sepakbola bernama Sohibul Menara, yang mulai eksis sejak 2015 silam. Tim ini tak pernah absen ikut POPDA (Pekan Olahraga Pelajar Daerah) tingkat Kabupaten Purworejo.

“Pertama kali ikut POPDA tahun 2015, tapi belum bisa menyabet juara,” jelas Kasinah, S.Pd, MM, Kepala Sekolah SMPN 34 Purworejo, Sabtu (27/02/2021).

Hal itu tak membuat patah semangat, namun malah menjadi penyemangat untuk berlatih lebih keras lagi. Dengan bimbingan pelatih Restiono Pambudi, SPd, tim sepakbola Sohibul Menara SMPN 34 Purworejo berhasil meraih juara 2 di POPDA tingkat kabupaten tahun 2016.

Dijelaskan pula oleh Kasinah, bahwa banyak pemain dari tim Sohibul Menara ini, yang diambil untuk memperkuat tim/SSB (Sekolah Sepak Bola) lain.

Kasinah, S.Pd. MM, Kepala SMPN 34 Purworejo - foto: Sujono/Koranjuri.com

Kasinah, S.Pd. MM, Kepala SMPN 34 Purworejo – foto: Sujono/Koranjuri.com

Tahun 2018, ungkap Kasinah yang didampingi Restiono Pambudi, Sohibul Menara mewakilkan dua pemainnya, penjaga gawang, Amar Al Hasmi dan striker, Arian Sagita, maju ke tingkat karesidenan Kedu, dan berhasil menyabet juara 2.

“Tahun 2019 kiper Amar Al Hasmi, dan pemain tengah Insyaf Trendi, maju ke tingkat Karesidenan Kedu. Tahun 2020, striker Arifin juga maju ke tingkat Karesidenan Kedu,” terang Kasinah.

Kini, di masa pandemi, kegiatan POPDA belum bisa dilaksanakan. Namun hal itu, tak mengurangi semangat tim Sohibul Menara untuk terus berlatih. Tim ini kerap bertanding dengan sparring partner dengan tim dari desa sekitar, maupun SSB.

Restiono menimpali, meski pandemi, tim masih latihan seminggu sekali. Saat sparring partner dengan DK FC menang 5-1, dengan SMPN 8 yang juara Popda tahun kemarin, menang 3-0, dengan SSB Tlepook Wetan menang 4-1.

“Kita memiliki potensi pemain di semua posisi. Kuncinya, disiplin pemain, latihan rutin, kerja keras, dan yang paling penting, semangat. Dengan sering sparring partner, anak-anak diberi kesempatan atau keleluasaan untuk bertanding dengan tim lain. Itu akan menambah pengalaman,” jelas Restiono.

Beberapa pemain, kata Restiono, diikutkan ke SSB. Beberapa pemain juga ikut klub yang lebih tinggi. Contohnya, Arian Sagita, striker, sempat ikut Diklat sepakbola di Kediri, dan melaju ke turnamen Singa Cup 2019 di Singapura pada 2-8 Nopember 2019 lalu.

Sebagai pengobat kecewa dan mengatasi rasa jenuh sampai POPDA diadakan lagi, tim ikut event-event di luar.

“Sepakbola merupakan ekstra unggulan. Ada 90 siswa ikut ekstra ini. Untuk tim Sohibul Menara, berisi 18 pemain yang diambil dari siswa kelas 7,8 dan 9,” jelas Restiono.

Melihat potensi dari siswa begitu besar, kata Kasinah, dari pertama Sohibul Menara sudah mendapatkan kejuaraan, baik di tingkat POPDA maupun Karesidenan (sekalipun hanya dipilih bebrapa siswa), dari pihak sekolah sangat mendukungnya.

Di saat pandemi, terang Kasinah, sepakbola merupakan satu-satunya ekstra yang masih berlatih, tentunya dengan pengawasan yang ketat. Dia berharap, anak-anak yang punya bakat di sepakbola itu, bisa mengembangkan bakatnya, dan di kemudian hari bisa bergabung dengan klub-klub yang lebih tinggi lagi.

“Belum lama ini, 2 siswa kami dimintakan ijin dispensasi oleh satu klub untuk melengkapi klub mereka,” pungkas Kasinah. (Jon)