Sepanjang Pandemi, Pertumbuhan Sektor Pertanian Tertinggi Setelah Manufaktur

    


Kepala Perwakilan wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali Trisno Nugroho dalam 2nd Webinar Transformasi Ekonomi Balinusra: Balinusra Menuju Pertanian 4.0, Selasa, 14 September 2021 - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Bank Indonesia mendorong transformasi sektor pertanian melalui teknologi dan digitalisasi 4.0. Sepanjang pandemi covid-19, sektor pertanian mencatatkan pertumbuhan tertinggi setelah manufaktur.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Rosmaya Hadi mengatakan, BI mendorong sektor produktif terutama pertanian untuk terus tumbuh.

“Komoditas pertanian yang produktif dan tumbuh positif adalah perikanan. Digitalisasi di sektor pertanian menjadi suatu keniscayaan,” kata Rosmaya Hadi dalam webinar transformasi ekonomi Bali Nusra, Selasa, 14 September 2021.

Lapangan usaha pertanian menjadi penyumbang utama produk domestik regional bruto (PDRB) masing-masing 23% untuk NTB dan 29% untuk NTT di tahun 2020.

Sedangkan di Bali, lapangan usaha pertanian memiliki pangsa 15% terhadap PDRB tahun 2020 atau terbesar kedua setelah lapangan usaha penyediaan akomodasi makan dan minum.

Pemulihan itu, kata Rosmaya, perlu dijaga dengan menggali potensi sumber daya pertumbuhan ekonomi. Potensi tersebut, dapat dilihat dari karakteristik sektor yang mendukung, terutama di Provinsi Bali Nusra.

Sementara, Kepala Perwakilan wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali Trisno Nugroho menambahkan, ekonomi Bali saat ini masih tertahan meski menunjukkan kinerja membaik. Hal tersebut juga terjadi di wilayah Nusa Tenggara (Nusra).

Sejak triwulan II hingga triwulan I tahun 2021, ekonomi Bali mengalami kontraksi. Namun pada triwulan II tahun 2021 mulai menunjukan pemulihan dengan tumbuh 3,70% yoy.

“Jika dilihat secara parsial pemulihannya berbeda-beda, ekonomi NTT sudah tumbuh positif sejak triwulan I tahun 2021, sedangkan ekonomi Bali NTB baru tumbuh pada triwulan II tahun 2021,” kata Trisno Nugroho.

Dari sisi ekspor, di tahun 2020, komoditas pertanian dan kelautan Bali Nusra memiliki pangsa 13,5% dari total ekspor yang ada. Angka itu, dikatakan Trisno menurun dibanding tahun 2019 yang mencapai 18,9%.

“Ekspor pertanian yang jadi penopang di wilayah Bali Nusra antara lain kepiting, udang, ikan tuna, mutiara, dan rumput laut serta benih lobster dari Bali,” ujarnya.

Saat ini pertanian memiliki peranan yang lebih penting lagi sebagai sektor yang menyerap tenaga kerja dari masyarakat yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi covid-19.

Penduduk yang bekerja di sektor pertanian di Bali 23%, NTB 35% dan NTT 54%. (Way)