Ruang Tak Berujung Sarat Petuah dari Karya Perupa Trio Mantan Guru

oleh
Tokoh seni di Bali Ni Luh Putri Suastini bersama tiga mantan guru dalam pameran Tutur Ayu di Santrian Art Gallery Denpasar, Jumat, 6 Maret 2026 - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Masa purna tugas sebagai pengajar justru membuka ruang lebih luas bagi tiga guru ini dalam berkesenian. Mereka adalah, I Ketut Marra, I Wayan Santrayana dan I Gede Budiartha.

Ketiganya menggelar pameran lukisan ‘Tutur Ayu’ dengan menampilkan 18 karya lukisan di Santrian Art Gallery Denpasar. Karya mereka dipamerkan mulai 6 Maret hingga 30 April 2026.

Tutur Ayu menyiratkan makna petuah yang disampaikan secara halus melalui karya lukisan yang dihasilkan. Para eks pengajar formal di bangku sekolah itu, tak kehilangan cara untuk terus menyuarakan petuah.

I Ketut Marra, mantan guru Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Batubulan, Gianyar mengatakan, dalam karya berjudul ‘Topeng Bali’ di atas kanvas berukuran 200×100 cm, sarat dengan ketidakpadanan antara yang terlihat dan tak terlihat.

Invisibilitas terkadang tidak sesuai dengan gambaran yang terlihat secara kasatmata, yang tampak konkret

“Kita tidak bisa menjustifikasi sesuatu hanya dari tampak luar. Karena itu, lukisan ini bercerita tentang kesejatian di balik topeng identitas. Karena topeng itu adalah metafora, tentang identitas,” kata Ketut Marra.

I Ketut Marra telah lama dikenal sebagai pendidik yang konsisten dalam berkarya. Berbagai aktifitas kesenian dilalui. Dari seni lukis hingga seni grafis yang dahulu dikenal dengan istilah reklame.

I Wayan Santrayana, dikenal dengan karakter karya yang menampilkan figur dan objek yang deformatis. Kecenderungan ini hadir sejak awal kariernya sebagai perupa. Berangkat dari, pembacaan kritis terhadap problematika sosial dan budaya masyarakat Bali.

Karya-karyanya berbicara tentang manusia merawat ekologi, menghadapi perubahan sosial, atau merenungkan kondisi bangsa dan dunia dengan pemikiran kritis.

Sedangkan, I Gede Budiartha menampilkan karya-karya abstraksi dan ekspresi artistik yang kuat. Meskipun secara komposisional tampak abstrak, di dalamnya tetap hadir representasi objek yang dapat dikenali.

Meski terkadang luruh dalam ekspresi warna, gestural dan pengolahan garis.

Penulis dalam pameran lukisan ‘Tutur Ayu’ I Made Susanta Dwitanaya mencermati peran ketiga seniman yang berlatarbelakang sebagai pengajar formal.

Menurut Susanta, kekuatan mereka dalam berkesenian terletak pada petuah yang disampaikan dalam karya lukisan. Kesenian dijadikan medium untuk mentransformasikan nilai-nilai kehidupan kepada masyarakat.

“Mereka menjadi soko guru tiang penyangga utama, menjaga hakikat pengetahuan tetap berdiri kokoh sekaligus pengemban kebijaksanaan melalui karya seni,” kata Susanta.

Pameran dibuka oleh tokoh pegiat seni dan seniman Ni Luh Putu Putri Suastini yang merupakan istri dari Gubernur Bali Wayan Koster. (Way)