KORANJURI.COM – Keberlanjutan menjadi kunci pertanian organik yang dikembangkan oleh I Made Sukayana, petani kopi organik yang juga Wakil Klian Subak Abian Tri karya Nadi, Desa Catur, Kecamatan Kintamani, Bangli.
Dia tidak hanya hari ini saja mengembangkan praktik keberlanjutan dalam pertanian kopi moderen. Tapi, Made Sukayana merupakan generasi ketiga yang melanjutkan profesi sebagai petani kopi muda di dataran tinggi Kintamani.
“Sudah sejak dulu dari kakek hingga bapak, sebelum bertanam kopi mereka membuat hutan terlebih dulu. Karena kopi merupakan tanaman yang butuh tanaman lain sebagai peneduh (shadow),” kata Made Sukayana Kamis (9/7/2026).
Kopi yang dibibitkan dan ditanam jenis Arabica dengan varietas yang teregister antara lain, S795, USDA, Kopyol, dan Kartika Kobra. Di kebun yang digarapnya seluas total 3 hektar, Made Sukayana melakukan pembibitan secara mandiri.
Dia punya keuntungan dengan bibit yang dibuat sendiri salah satunya, memahami sejarah dan darimana bibit itu berasal.
“Tapi belakangan ada clone lain yang masuk tapi belum teregister secara indikasi geografis,” jelasnya.
Sebagai petani, dirinya bukan hanya membibitkan, memanen dan menjual, tapi juga melakukan seluruh kegiatan untuk mendukung keberlanjutan lingkungan.
Sukayana mengatakan, kegiatan pra hingga pasca dilakukan mulai dari pembibitan, budidaya, pemeliharaan, panen, proses pasca panen. Hingga proses sangrai.
“Tidak ada yang tersisa di sini, kami mengolah kulit kopi (cascara) menjadi teh. Daun-daun jadi kompos, batang jadi kayu bakar bio charcoal. Jadi di sini kami mendapatkan multiplier effect,” kata Made Sukayana.
Untuk setiap musim bibit kopi yang dihasilkan sebanyak 2.000-3.000 pohon. Namun, kebutuhan itu rupanya lebih besar dari sekedar kebutuhan untuk 4 lokasi lahan yang dikelola Made Sukayana.
Sebagai pelaku petani moderen dan menerapkan praktik sustainable, Made Sukayana kerap mendapat pesanan bibit kopi dari tempat lain.
“Karena disini kebutuhannya banyak kami juga buat untuk dijual bisa sampai 100 ribu bibit,” ujarnya.
Di sisi lain, dirinya mengaku metode pertanian organik belum menjanjikan secara finansial, tapi secara lingkungan dirinya lebih percaya diri melakukan pola tanam pertanian organik.
“Belakangan harga kopi cukup menjanjikan, naik drastis. Banyak sekarang yang tidak potensial arabika mereka tanam arabika. Mungkin daerah di bawah 1000 mdpl. Kalau idealnya arabika di atas 1000 mdpl seperti di Desa Catur ini di ketinggian 1.250 mdpl,” jelas Made Sukayana.
Proteksi Agroforestri
Proteksi agroforestri hutan kopi berbasis kepemilikan petani mulai dikembangkan. Wilayah proteksi agroforestri hutan kopi berbasis kepemilikan petani menjadi upaya aksi mitigasi perubahan iklim untuk solusi berbasis alam.
CEO Coop Coffee Foundation Reza Fabianus mengatakan, solusi berbasis alam itu mulai ditinjau oleh pihak dari negara Jepang pada Kamis (9/7/2026). Kerjasama itu menyangkut joint crediting mechanism (JCM) untuk perdagangan karbon.
“Kunjungan verfikasi proyek karbon di hulu hari ini, merupakan bentuk kelanjutan dan keseriusan dari Kesepakatan yang telah ditandatangani kedua belah pihak,” kata Reza di Kintamani, Kabupaten Bangli.
Dalam kunjungan di kebun Arabika itu, JCM diperkenalkan proses pengolahan kopi organik untuk memenuhi pasar ekspor Jepang.
Coop Coffee Foundation menjadi mitra pembangunan dalam implementasi Peraturan Presiden (PP) Nomor 110 tahun 2025. RegulSi itu mengatur tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon (NEK) dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca Nasional.
“Di sini kami mengajak mitra kerja SDG Impact Japan untuk meninjau pelaksanaan proyek pemulihan hutan di Kintamani,” kata Reza. (Way)





