KORANJURI.COM – Kebutuhan pasokan kopi Indonesia ke dunia mencapai angka US$18 miliar atau sekitar Rp7 triliun. Untuk merebut peluang tersebut, dibutuhkan rantai pasok yang terjaga dan berkelanjutan.
Menurut CEO Koop Kopi Indonesia Reza Fabianus, selama ini para petani masih banyak menemui kendala untuk menembus pasar ekspor. Kepengurusan dokumen ekspor yang rumit dan panjang justru menghambat peluang menembus pasar global.
“Jadi maksud aku gini dulu. Kalau petani, dengan segala hormat, aku rasa jangan didorong untuk ekspor. Karena kalau bicara ekspor, itu berat dalam konteks kepengurusan dokumen. Karena ekspor ini kan antar negara,” kata Reza di Denpasar.
Pasar global saat ini membutuhkan pasokan kopi dari Indonesia dalam jumlah tak terbatas. Untuk mencapai tujuan itu menurut Reza, membutuhkan eksportir yang memiliki pengalaman perdagangan ekspor.
“Nah, inilah peran eksportir tadi. Dengan Koperasi yang kita inisiasi sekarang, petani akan berproduksi secara maksimal sesuai lahan yang mereka punya dan diserap oleh koperasi. Kemudian, koperasi yang ber trading dengan eksportirnya,” kata Reza.
Untuk membantu petani kopi khususnya di Bali, Koop Kopi Indonesia menginisiasi Koperasi Lestari sebagai wadah petani kopi arabika Kintamani.
Koperasi tersebut nantinya akan menampung hasil panen kopi para petani dan Koperasi akan memfasilitasi kebutuhan pasokan kopi ke pasar ekspor.
Dengan terbukanya pasar kopi dunia hingga Rp7 triliun menurutnya, berapa pun hasil panen para petani kopi arabika Kintamani, dimungkinkan akan terserap oleh pasar global.
“Sampai saat ini kopi arabika Kintamani yang keluar untuk pasar ekspor mencapai 30 kontainer per tahun, meski kebutuhan sebenarnya lebih dari itu,” ujarnya.
Namun, untuk pasar reguler, kopi arabika Kintamani jadi pemasok utama jaringan pemasaran Starbucks Trading Company. Kebutuhannya mencapai 10 kontainer dalam sekali musim panen.
Reza mengatakan, siklus panen kopi umumnya terjadi di akhir tahun. Sebelumnya, panen terjadi di bulan Maret. Namun, karena perubahan iklim siklus panen bergeser di bulan Juli hingga Agustus.
“Selesai di bulan Juli-Agustus. Biasanya itu November-Desember paling bagus itu untuk ekspornya. Nah ini makanya, karena ada jeda waktu, biji kopi harus ditampung dulu sebelum diekspor,” kata Reza. (Way)





