Coop Coffee Foundation Edukasi Gen Z Soal Rantai Pasok Kopi dan Perubahan Iklim

oleh
Program Manager Blended Finance Scheme Coop Coffee Foundation Sascha Poespo - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Coop Coffee Foundation menggelar program pembelajaran ekslusif ‘Youth, Coffee and Climate’ untuk generasi Z di Bali. Generasi internet ini juga dikenal sebagai penikmat kopi.

Namun, untuk event yang digelar itu, mereka diberikan pemahaman tentang rantai pasok kopi yang melewati proses panjang sebelum terhidang dalam sebuah cangkir.

Program Manager Blended Finance Scheme Coop Coffee Foundation Sascha Poespo mengatakan, masa depan kopi Indonesia perlu dipersiapkan sejak sekarang. Khususnya, kopi Kintamani, Bali.

Menurut Sascha, generasi digital native dekat dengan kehidupan berjejaring dunia maya. Kekuatan itu perlu digunakan untuk memberikan pemahaman kepada publik agar mengetahui persoalan sistemik yang dihadapi petani kopi.

“Dalam acara ini kami menghadirkan tiga petani perempuan asal Kintamani, Bangli. Mereka punya cerita panjang sebagai petani dari mulai memetik, memilah hingga mengolah biji kopi. Proses yang dijalani untuk secangkir kopi sangat panjang dan penuh tantangan,” kata Sascha di Badung, Kamis, 5 Maret 2026.

Generasi Z itu diharapkan mampu menjadi regenerasi petani kopi yang saat ini mulai berkurang jumlahnya. Sedangkan, generasi Z diharapkan bukan hanya menjadi penikmat kopi saja, tapi menjadi pelaku pasokan kopi.

Sascha mengatakan, Coop Coffee Foundation memberikan pembagian pohon kopi siap tanam bagi Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Kopi Arabika Kintamani Bali.

Sejak Januari hingga bulan Maret 2026, terdapat 100.000 penanaman pohon kopi varietas B-1 kopyol di area Kintamani.

“Kita mengarahkan pada sistem agroforestry atau hutan kopi, sebagai salah satu solusi alami penyerapan karbon. Ini menjadi langkah mitigasi menerapkan standar karbon dari proses pengolahan kopi,” ujarnya.

Coop Coffee Foundation saat ini fokus pada program bertema Coffee, Carbon & Climate melalui keterhubungan tiga konsep yakni, kesetaraan gender. Termasuk, peran pemuda, kemudian perhatian pada disabilitas dan inklusi sosial.

Kegiatan itu bukan hanya menghadirkan generasi Z tapi juga untuk kelompok inklusif.

“Saat ini kami bekerjasama dengan UID Foundation dan teman-teman lokal, nasional, serta internasional,” kata Sascha. (Way)