KORANJURI.COM – Ahli Biologi Tropis dari 11 negara ASEAN yang tergabung dalam SEAMEO Regional Centre for Tropical Biology (SEAMEO BIOTROP), menggelar pertemuan di Bali.
Sidang tahunan dewan pembina itu mendorong sejumlah isu pembangunan berkelanjutan berbasis lingkungan. Dengan keahliannya di bidang biologi tropis, BIOTROP tidak hanya berkontribusi dalam riset dan inovasi tapi juga edukasi.
Direktur SEAMEO BIOTROP Prof. Edi Santosa mengatakan, tahun ini ada 23 topik yang dibahas. Secara umum, konservasi biodiversity menjadi tema besar dalam menjaga keberlangsungan lingkungan.
“Program yang dibangun diharapakan memperluas kontribusi dalam riset, pendidikan, inovasi, dan pengelolaan biodiversitas berkelanjutan di Asia Tenggara,” jelas Edi Santosa di Kuta, Kabupaten Badung, Kamis, 24 September 2026.
Di Bali, kawasan Geopark Gunung Batur di Kintamani, Bangli, dikembangkan menjadi sarana pembelajaran berbasis potensi lokal. Model yang dikembangkan, kata Edi, menghubungkan warisan geologi, biodiversitas, agroekosistem, dan kehidupan masyarakat.
“Pengembangan model ini diperkuat melalui webinar regional dan pelatihan nasional di Kabupaten Bangli yang melibatkan pendidik dari 13 sekolah,” jelasnya.
Dalam Rapat Dewan Pembina, Governing Board Meeting (GBM) Ke-64 di Bali, SEAMEO BIOTROP juga melakukan MoU bersama tiga Perguruan Tinggi di tanah air.
Lembaga pendidikan tinggi yang terlibat yakni, Universitas Timor (Unimor), Universitas Hasanudin, Makasar dan Politeknik Negeri Lampung.
Edi menjelaskan, setiap tahun SEAMEO BIOTROP melibatkan 16 perguruan tinggi. Secara implementasi, setiap pendidikan tinggi yang dilibatkan membuaat program yang berbeda. Hal itu bergantung dengan kondisi di setiap daerah.
“Kalau dengan Unhas kita membuat kegiatan yang ada kaitannya dengan kars, yang sekarang lagi on going adalah kawasan konservasi Bantimurung. Kalau dengan Universitas Timor, ini daerah yang sangat kering, wilayah semi arid, yang memang ada di wilayah NTT,” jelas Edi.
Sekretaris SEAMEO BIOTROP Fuat Edi Kurniawan menambahkan, menjaga keberlanjutan biodiversitas di masa depan memiliki tantangan tersendiri. Sejumlah isu yang dibahas diharapkan berdampak di tingkat ASEAN.
“Saya berharap GMB ini jadi titik awal untuk terus melanjutkan pekerjaan di organisasi ini,” kata Fuat.
Sidang Dewan Pembina ke-64 berlangsung pada 24-26 September 2026 di Bali. Forum tersebut menjadi forum untuk membahas arah program serta pengembangan kelembagaan SEAMEO BIOTROP.
Sementara, SEAMEO BIOTROP merupakan salah satu pusat regional Southeast Asian Ministers of Education Organization yang berfokus pada riset, pelatihan, dan pengembangan kapasitas di bidang biologi tropis. Organisasi di kawasan Asia Tenggara ini didirikan pada 1968 dan berkedudukan di Bogor, Indonesia. (Way)





