Upaya UNIMOR Cari Solusi Budidaya Cendana Asli NTT lewat Teknologi Inang

oleh
Dekan Fakultas Pertanian, Sains dan Kesehatan Universitas Timor (UNIMOR), NTT, Eduardus Yosef Neonbeni - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Biodiversitas asli kepulauan Timor, tanaman Cendana (Santalum album) saat ini habitatnya mulai berkurang. Populasi tanaman semi parasit penghasil aroma harum alami, di Pulau NTT pun, saat ini sudah mulai langka.

Akademisi Universitas Timor (UNIMOR), Kefamenanu, NTT Eduardus Yosef Neonbeni mengatakan, keberlanjutan biodiversitas khas Pulau Timor itu, menjadi program yang tengah dikerjasamakan dengan SEAMEO BIOTROP, lembaga riset dan pelatihan di tingkat ASEAN.

“Saat ini sebagian generasi muda sudah tidak mengenal lagi Cendana, tapi kita di UNIMOR bersyukur ada pengembangan-pengembangan yang asli Timor,” kata Eduardus di Bali.

Cendana asli yang dimaksud bukan merupakan introduksi tapi memiliki asal muasal tumbuh dan berkembang menjadi tanaman asli di Pulau Timor. Meskipun saat ini populasinya mulai menurun drastis.

Menurut Eduardus, persebaran populasi pohon cendana juga tidak terpusat dalam satu lokasi tapi menyebar. Kerjasama dengan SEAMEO BIOTROP bertujuan, untuk meningkatkan populasi di wilayah yang sebelumnya menjadi lahan hidup pohon cendana.

“Kendala yang dihadapi saat ini, penanaman di tingkat masyarakat masih berkurang. Terutama keberlanjutan budidaya dan pemeliharaan pasca tanam,” jelasnya.

Eduardus menjelaskan, sifat tanaman cendana membutuhkan tanaman inang. Pohon Cendana sejenis benalu akar yang diharapkan dapat dikembangkan melalui teknologi yang tepat.

“Dengan penelitian dan teknologi, harapannya ada solusi budidaya misal, cendana ini bisa dibudidayakan dengan tanaman inang lain, karena di habitat aslinya tanaman cendana ini hanya bisa tumbuh dengan tanaman inang tertentu,” kata Eduardus.

Dalam Rapat Dewan Pembina di Bali, Kamis (24/9/2026) lalu, Governing Board Meeting (GBM) Ke-64 SEAMEO BIOTROP juga melakukan MoU bersama tiga Perguruan Tinggi di tanah air.

Lembaga pendidikan tinggi yang terlibat yakni, Universitas Timor (UNIMOR), Universitas Hasanudin, Makasar dan Politeknik Negeri Lampung.

Edi menjelaskan, setiap tahun SEAMEO BIOTROP melibatkan 16 perguruan tinggi. Secara implementasi, setiap pendidikan tinggi yang dilibatkan membuaat program yang berbeda. Hal itu bergantung dengan kondisi di setiap daerah.

“Kalau dengan UNHAS kita membuat kegiatan yang ada kaitannya dengan kars, yang sekarang lagi on going adalah kawasan konservasi Bantimurung. Kalau dengan Universitas Timor, ini daerah yang sangat kering, wilayah semi arid, yang memang ada di wilayah NTT,” jelas Edi. (Way)