KORANJURI.COM -Gelombang ajakan untuk menolak bayar pajak kendaraan bermotor (PKB) di Jawa Tengah boleh saja riuh rendah menghiasi lini masa media sosial belakangan ini.
Namun, fenomena tersebut tampaknya tidak menyurutkan langkah warga Kabupaten Purworejo untuk tetap menunaikan kewajibannya sebagai warga negara yang baik.
Pantauan di lokasi, Kamis (19/02/2026), menunjukkan aktivitas pelayanan pajak kendaraan tetap berjalan normal. Salah satu warga yang terlihat taat mengantre adalah Suparyati (50), warga Desa Jono, Kecamatan Bayan. Meski kebijakan baru mengenai opsen (tambahan pajak) mulai diberlakukan dan membuat nominal pajak sedikit terkerek naik, ia tetap memantapkan niatnya datang ke Kantor Samsat.
Suparyati datang untuk mengurus pajak motor Yamaha Mio M3 miliknya. Menariknya, kali ini bukan sekadar pajak tahunan biasa, melainkan pajak lima tahunan yang dibarengi dengan penggantian plat nomor.
“Iya, sekarang ada kenaikan karena ada opsen itu. Tadi saya habis sekitar Rp380 ribuan untuk pajak sekaligus ganti plat lima tahunan,” ujar Suparyati saat ditemui usai melakukan pembayaran.
Meski harus merogoh kocek lebih dalam, perempuan paruh baya ini mengaku tidak terpengaruh dengan gerakan-gerakan penolakan pajak yang viral di internet. Baginya, membayar pajak adalah tanggung jawab yang manfaatnya akan kembali lagi ke masyarakat.
Suparyati menunjukkan tingkat literasi yang cukup tinggi mengenai kebijakan pemerintah. Ia menyadari bahwa kebijakan opsen ini merupakan langkah pemerintah untuk mengimbangi efisiensi anggaran dari pusat ke daerah. Pajak yang dibayarkan langsung dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur dan fasilitas publik di Purworejo.
Baginya, memiliki kendaraan berarti siap dengan konsekuensi perawatannya, termasuk pajaknya.
Ia paham bahwa daerah perlu kemandirian fiskal untuk tetap bisa membangun.
“Saya sadar bayar pajak itu kewajiban. Apalagi katanya ini untuk pembangunan daerah kita sendiri. Kalau bukan kita yang bayar, lalu pakai apa daerah mau membangun?” tambahnya dengan nada bijak.
Fenomena Suparyati menjadi bukti bahwa di akar rumput, kesadaran akan pentingnya kontribusi pajak masih sangat kuat. Warga cenderung lebih mementingkan manfaat jangka panjang bagi pembangunan daerah ketimbang terprovokasi riuhnya opini di media sosial. (Jon)






