Bulan Suro berawal pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo sebagai raja kerajaan Mataram ketiga. Bulan tersebut memiliki makna penyatuan seluruh kekuatan rakyat pada masa itu.
Ketokohan Sultan Agung yang terus menolak kolonial penjajahan berusaha untuk terus menyerang kompeni Belanda. Dua kali Sultan Agung berusaha menyerang Batavia tapi semuanya gagal. Ia membutuhkan kekuatan rakyat yang disatukan.
ARTIKEL TERKAIT
5 Tempat Kulineran Rekomendasi di Kota Solo, Pilih yang Mana?”

Sultan Agung Hanyokrokusumo memiliki ide menyatukan dua buah penanggalan yang pada saat itu digunakan oleh masyarakat Jawa. Sehingga, kepercayaan yang berkembang, Hindu dan Islam, menjadi pemicu terbelahnya kekuatan rakyat.
“Penyatuan dua buah penanggalan akan mempersatukan masyarakat dalam satu tatanan penanggalan yang digunakan secara resmi oleh Kerajaan,” ujar pegiat budaya dan abdi dalem ulama Keraton Kasunanan Surakarta Raden Tumenggung Sudrajat Dwijodipuro.
Masyarakat Jawa sebelumnya mengacu pada penanggalan tahun Saka yang berasal dari Hindu. Sedangkan, saat itu para wali mengenalkan kalender Hijriah untuk menentukan aktifitas penganut ajaran Islam.
Dari penggabungan Tahun Saka dan Tahun Hijriah ini maka lahirlah tahun Jawa. Peristiwa itu terjadi di tahun 1633. Selanjutnya, pada setiap awal penanggalan tahun Jawa dikenal dengan 1 Sura.
Penanggalan Tahun Jawa berbeda dengan penanggalan kelender Hijriah yang mengenal 12 bulan dalam setahun. Dalam penanggalan Jawa dikenal dengan perhitungan windu atau periode siklus selang waktu delapan tahun.
Setiap tahun dalam penanggalan Jawa punya arti dan nama sendiri sendiri selama sewindu yakni, Alif, Ehe, Jimawa, Je, Dal, Be, Wawu dan Jumakir. (Way/JK)





