KORANJURI.COM – Survei Bank Indonesia terhadap penjualan eceran, mencatat Indeks Penjualan Riil (IPR) Bali sebesar 124,2 poin. Secara tahunan, tumbuh 6,5% (yoy) dan berada di level optimis (>100).
Survei Penjualan Eceran (SPE) di Bali merupakan kegiatan pengumpulan data yang rutin digelar setiap bulan. Survei mengambil sampel data dari 100 responden pedagang eceran.
Tujuannya, untuk mendapatkan informasi awal mengenai arah pergerakan pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi.
Kepala Perwakilan wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali Erwin Soeriadimadja mengatakan, IPR Bali meningkat sebesar 0,9% (mtm).
Kondisi itu didukung oleh optimisme pelaku usaha seiring penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) pada 1 Januari 2026.
Pemerintah menurunkan harga BBM tipe Pertamax dari Rp12.750 per liter menjadi Rp12.350 per liter.
“Pelaku usaha meyakini adanya dorongan berbelanja sejalan sejalan dengan kenaikan Upah Minimum Kabupaten/Kota (UMK) sebesar 7% (yoy) di Bali,” kata Erwin.
Komponen pembentuk IPR secara bulanan tertinggi terjadi pada, kategori Barang Lainnya mencakup, farmasi, kosmetik, elpiji untuk rumah tangga, dan barang kimia untuk rumah tangga. Peningkatannya sebesar 3,2% (mtm).
Bahan Bakar Kendaraan Bermotor meningkat sebesar 3,2% (mtm), sandang 2,6% (mtm) dan peralatan informasi dan komunikasi 2,3% (mtm).
Barang budaya dan rekreasi mencakup alat tulis dan alat olahraga, meningkat sebesar 2,3% (mtm). Serta, makanan, minuman dan tembakau meningkay sebesar 1,4% (mtm).
Erwin mengatakan, optimisme turut tercermin dari data laporan umum Bank terintegrasi pada Lapangan Usaha (LU) Perdagangan, dengan pertumbuhan 1,44% (yoy)!di bulan Desember 2025.
Angka itu, kata Erwin, lebih tinggi dari November 2025 sebesar 0,95% (yoy). (Way)






