Distan Bali Kembangkan Inovasi Padi Salibu untuk Jaga Ketahanan Pangan

    


Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali I Wayan Sunada - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Dinas Pertanian dan Ketahanan Provinsi Bali mengembangkan inovasi penanaman padi dengan teknik Salibu. Teknik Salibu memiliki banyak keuntungan untuk petani, terutama peningkatan produksi beras.

Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali I Wayan Sunada menjelaskan, dengan teknik itu, petani akan mendapatkan sejumlah benefit dengan hasil tetap optimal.

“Petani tidak perlu mengolah tanah, petani tidak perlu membeli bibit baru lagi, termasuk efisiensi waktu, tenaga kerja dan hasil produksi pasti meningkat,” kata Wayan Sunada di Denpasar, Selasa, 2 Agustus 2022.

Teknik Salibu telah empat kali diujicoba di Bali dan yang terbaru dilakukan di lahan pertanian Subak Telaga, Desa Ketewel, Sukawati, Gianyar. Dikatakan Sunada, dengan kondisi areal pertanian di pesisir pantai, hasil produksinya tetap optimal.

Masa panen pun lebih cepat 15 hari dari masa panen normal yang umumnya 3 bulan. Penerapan Padi Salibu di Sukawati itu, hasil produksinya naik 0,5 ton.

Secara teknis, keberhasilan pengembangan Padi Salibu ini ada di pemotongan. Sunada mengatakan, pemotongan dilakukan pada batang setinggi 3 cm dari atas tanah. Pemotongan batang bisa dilakukan dengan dua cara yakni, pemotongan manual maupun menggunakan mesin.

“Yang terpenting pisaunya harus tajam, tapi akan lebih bagus lagi kalau dilakukan pemotongan secara manual dengan pisau yang tajam,” jelasnya.

Padi salibu merupakan tanaman padi yang tumbuh lagi setelah batang sisa panen dipangkas. Dikatakan, tunas akan muncul dari buku yang ada di dalam tanah. Tunas itu akan mengeluarkan akar baru.

“Kalau tanam baru, anakannya paling banyakn
21 sampai 23 tunas, tapi Padi Salibu ini bisa memunculkan sampai 50 tunas baru, itu keuntungannya,” jelasnya.

Dalam hal ini, Dinas Pertanian memberikan pendampingan kepada petani yang ingin mengembangkan pola tanam dengan teknik Salibu. Wayan Sunada mengatakan, banyak petani di Bali tertarik untuk pengembangan teknik tersebut.

Dalam setiap pendampingan, tim Dinas Pertanian juga mengajarkan cara membuat pupuk organik hasil ciptaan I Wayan Sunada sendiri yakni, pupuk Bio-Inokulum.

“Sekali, dua kali pendampingan, petani akan jalan sendiri,” ujarnya demikian.

Seperti diketahui, Bali saat ini tengah mengembangkan pertanian organik untuk meningkatkan daya saing. Dengan perbandingan jumlah penduduk yang ada, seharusnya Bali memiliki lebih dari 80 ribu hektar lahan pertanian.

“Tapi lahan yang kita punya hanya sekitar 71 ribu hektar. Dengan lahan sempit ini, kita perlu lakukan inovasi, salah satunya mengembangkan Padi Salibu ini untuk ketersediaan pangan,” kata Wayan Sunada. (Way)