KORANJURI.COM – Pariwisata Pulau Dewata menghasilkan devisa hingga Rp176 triliun di tahun 2025. Atau, kontribusinya mencapai 50 persen dari kontribusi sektor pariwisata nasional.
Namun, perputaran ekonomi itu menyisakan sejumlah persoalan terutama isu kemacetan. Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan, infrastruktur dan layanan publik belum mampu mengimbangi peningkatan aktivitas. Terutama, transportasi.
“Kalau dibiarkan ya masalah dia (kemacetan). Jadi masalah utama kami adalah infrastruktur untuk meningkatkan kapasitas daya saing kepariwisataan Bali supaya betul-betul naik kelas,” kata Koster.
Hal itu disampaikan Gubernur Bali Wayan Koster saat menggelar rapat koordinasi pembangunan wilayah Bali yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono di Bali, Senin, 20 Juli 2026.
Koster mengatakan, percepatan pembangunan infrastruktur merupakan prasyarat penting untuk menjaga daya saing pariwisata Bali di masa depan.
“Jika kemacetan tidak segera ditangani, Bali berisiko mengalami penurunan kualitas destinasi dan daya saing pariwisata,” ujarnya.
Menurut Koster, jika dibandingkan dengan pariwisata negara lain seperti, Thailand, Singapura bahkan Malaysia, peningkatan infrastruktur di Bali jauh ketinggalan.
Meski, rata-rata pengeluaran wisatawan mancanegara tercatat sebesar 1.522 dolar AS per kunjungan.
Sepanjang tahun 2025, total kunjungan wisatawan ke Bali mencapai 16,3 juta orang. Jumlah itu terdiri dari 7,05 juta wisatawan mancanegara dan sekitar 9,3 juta wisatawan domestik.
“Saya yakin, anggaplah itu investasi, maka balik modalnya akan cepat, karena ekonomi di Bali bergerak pesat,” kata Koster.
Sementara, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono mengatakan, pariwisata tidak bisa diabaikan.
Menurutnya, akan selalu terjadi dilema untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Karena, kata AHY, akan selalu dibarengi dengan konsekuensi.
“Padahal, di saat bersamaan kita ingin mempertahankan lahan sawah tapi di sisi lain kita ingin ada pertumbuhan ekonomi. Di sinilah kita harus menertibkan dengan tujuan yang baik, menjaga alam, menjaga manusia dan menjaga budaya,” kata AHY. (Way)





