KORANJURI.COM – Masa depan ekonomi karbon tidak hanya ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang digunakan atau seberapa besar pasar karbon berkembang.
Kredibilitasnya juga ditentukan oleh kualitas implementasi di tingkat tapak dan oleh keterlibatan masyarakat yang menjaga lanskap tersebut.
Solusi berbasis alam ini yang dikembangkan petani Kopi Arabika Kintamani dalam menjaga keberlanjutan. Mereka beralih ke penanaman organik dengan memanfaatkan limbah yang ada di sekitar. Sehingga, tidak ada yang terbuang.
CEO PT Koop Kopi Indonesia Reza Fabianus mengatakan, Project Kintamani yang tengah dijalankan saat ini merupakan solusi berbasis alam.
“Hari ini kita bawa petani binaan yang telah menerapkan pola pertanian organik yang terhubung dengan sektor perdagangan karbon,” kata Reza di event Carbon and Biodiversity Summit (ICBS) 2026, Nusa Dua, Bali, Selasa, 8 September 2026.
Menurut Reza Koop Kopi Indonesia berperan untuk menerjemahkan konsep karbon. Keberlanjutan itu menjadi aksi nyata di tingkat kebun dan komunitas petani kopi.
“Koop Kopi Indonesia bekerja dari sumbernya, yaitu lanskap kopi dan masyarakat yang mengelolanya. Kami membangun kapasitas petani, mengembangkan praktik pertanian yang lebih berkelanjutan, menghubungkan pengetahuan lokal dengan teknologi,” jelas Reza.
Ia memastikan, melalui sistem pertanian organik, perubahan di tingkat lahan dapat terdokumentasi dan terukur. Dalam model ini, perempuan petani kopi menjadi salah satu pelaku utama dalam menghubungkan carbon trading di sektor kehutanan.
Petani perempuan Kopi Arabika Kintamani Ni Wayan Srianti mengatakan, pola organik sudah dijalankan sejak setahun terakhir. Hasilnya cukup memuaskan. Buah kopi menjadi lebih tebal dan daun jarang menguning.
“Kualitas buah yang lebih tebal juga mempengaruhi berat, jadi hasil panennya lebih bagus,” kata Srianti yang biasa disapa ibu Ole.
Pupuk organik yang digunakan juga diproduksi sendiri dengan bahan-bahan yang diambil dari sisa tanaman kebun kopi. Serta, limbah organik sisa metabolisme hewan ternak seperti ayam dan sapi.
“Setelah dilakukan dekomposer, dalam waktu dua puluh satu hari pupuk sudah bisa digunakan, lebih lama engga apa juga,” kata Ni Wayan Srianti.
Program Manager Blended Finance Scheme Coop Coffee Foundation Sascha Poespo menambahkan, Perempuan Kopi Hijau di Desa Catur, Kintamani, Bangli, selama ini menjadi ujung tombak produksi kopi organik yang akan mendukung kredit karbon.
Di titik inilah, kata Sascha, Koop Kopi Indonesia menempatkan perempuan kopi sebagai bagian penting dari masa depan tersebut.
“Ketika perempuan, teknologi, data, kopi, biodiversitas, dan karbon dapat bekerja dalam satu ekosistem, maka sebuah kebun kopi tidak lagi hanya menjadi tempat menghasilkan komoditas, tapi berkembang lebih jauh menjadi penopang ekonomi karbon,” jelas Sascha.
Bali 100% Organik di 2028
Pertanian organik juga menjadi kebijakan Pemerintah Provinsi Bali yang diatur dengan Peraturan Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 8 Tahun 2019.
Membuka Carbon and Biodiversity Summit (ICBS) 2026, Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan, pertanian organik di Bali dimulai dari sawah.
Menurutnya, pertanian konvensional dengan pupuk kimia akan merusak alam dan mematikan keragaman hayati.
“Sawah di Bali ini ada 64.000 hektar. 52.000 hektar di Bali sawahnya sudah organik. Tinggal lagi 12.000-an hektar sawah yang belum organik, kami akan targetkan selesai semua organiknya pada tahun 2028,” jelas Koster. (Way)





