KORANJURI.COM – Meidina Riski menjadi salah satu penari yang mengisi pembukaan Kongres Balai Pemasyarakatan dunia, 7th World Congress on Probation and Parole (WCPP) yang berlangsung di Nusa Dua, Bali.
Meidina saat ini masih berstatus sebagai warga binaan pemasyarakatan Lapas Perempuan Kelas IIA Kerobokan. Penampilannya di atas panggung dengan banyak audiens seperti itu, bukan baru pertama kali ia lakukan.
Sebelumnya, ia bersama tim warga binaan lainnya pernah mengisi event nasional sebagai undangan untuk menampilkan kemampuannya di bidang seni, khususnya tarian Bali.
“Kalau event sekarang ini, kami mempersiapkan selama empat bulan, latihan menari bersama sekeha gong dan menyanyi. Awalnya agak kesulitan menghafal gerak tarian, tapi akhirnya semuanya lancar,” kata Meidina di Nusa Dua, Bali, Selasa (14/4/2026).
Meidina mengungkapkan, selama berada di lapas perempuan dirinya aktif mengikuti kegiatan pembinaan terutama di bidang kesenian dan UMKM.
Bahkan, ia bersama warga binaan pemasyarakatan lainnya berhasil menciptakan produk kuliner unggulan keripik tempe.
“”Kebetulan saya juga bekerja di produksi keripik tempe itu, jadi ke depannya mungkin akan melanjutkan usaha itu,” jelasnya.
Dalam acara pembukaan Kongres Balai Pemasyarakatan dunia di Nusa Dua, ada 27 penampil dari warga binaan pemasyarakatan lapas perempuan Kerobokan yang dilibatkan.
Kepala Lapas Perempun Kelas IIA Kerobokan Ni Luh Putu Andiyani mengatakan, 22 orang menampilkan tarian Bali dan 5 orang sebagai backing vokal mengiringi band Antrabez, kelompok musik binaan Lapas Kerobokan.
“Mereka sangat antusias, apalagi bisa tampil di ajang internasional, jadi kebanggaan buat mereka bisa tampil maksimal,” kata Andayani.
Selama berada di Lapas, warga binaan banyak mengikuti pembinaan. Hasilnya, mereka kerap diundang dalam berbagai acara di luar Lapas.
“Untuk acara ini, ada dua orang penari yang sudah bebas, jadi mereka merupakan klien Bapas dan ada dua orang yang sudah keluar, cuti bersyarat dan bebas bersyarat,” kata Ni Luh Putu Andiyani. (Way)






