KORANJURI.COM – Pemerintah Kabupaten Purworejo bersama TP PKK Kabupaten Purworejo resmi meluncurkan program inovatif “Gerakan Jelantah Jadi Rupiah” di Gedung Arahiwang, Setda Kabupaten Purworejo, Jumat (30/10/2026).
Gerakan ini hadir sebagai solusi nyata untuk mengatasi persoalan lingkungan sekaligus memberikan tambahan penghasilan bagi warga dari limbah rumah tangga.
Selama ini, kebiasaan membuang minyak jelantah sembarangan ke saluran air atau memakainya berulang kali kerap diabaikan masyarakat. Padahal, kebiasaan sepele tersebut menyimpan dampak buruk yang luar biasa bagi kesehatan tubuh dan kelestarian lingkungan sekitar.
Wakil Bupati Purworejo, Dion Agasi Setiabudi SIKom MSi, mengungkapkan bahwa potensi limbah dapur di tengah masyarakat sangatlah besar. Berdasarkan data penelitian, satu rumah tangga rata-rata mampu menghasilkan 1,2 hingga 1,5 liter minyak jelantah setiap bulannya.
“Satu liter minyak jelantah yang dibuang ke sungai saja bisa mencemari hingga 1.000 liter air. Bayangkan potensi kerusakan jika tidak dikelola dengan benar,” tegas Wabup Dion.
Untuk memastikan program berjalan optimal dan berkelanjutan, TP PKK Kabupaten Purworejo menggandeng PT Biosirkular Inovasi Indonesia sebagai mitra pengumpul resmi. Perusahaan ini siap membeli minyak jelantah yang dikumpulkan oleh para kader PKK dengan harga menarik, yakni Rp7.000 per liter.
Wabup Dion juga secara khusus mengarahkan agar ada penyesuaian harga bagi penyetor di tingkat bawah. Langkah ini diambil agar para kader PKK yang bertugas sebagai pengepul di tingkat desa dan kecamatan tetap mendapatkan margin keuntungan guna mendukung roda organisasi mereka.
Sebelum peluncuran resmi ini dilakukan, TP PKK Purworejo tercatat telah sukses melakukan uji coba di 16 desa binaan dan berhasil mengumpulkan sekitar 520 liter minyak jelantah.
Sementara itu, Ketua TP PKK Kabupaten Purworejo, Raja Thifal Mazaya Izzati, menegaskan bahwa penanganan minyak jelantah merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan kepedulian kolektif dari seluruh lapisan masyarakat. Ia pun meminta para camat serta perangkat daerah untuk aktif menyosialisasikan gerakan ini hingga ke tingkat desa, kelurahan, desa wisata, hingga para pelaku UMKM.
“Ada dua manfaat sekaligus yang kita dapatkan, yakni ikut menjaga lingkungan tetap bersih dan mendatangkan nilai ekonomis bagi yang berpartisipasi,” ujar Raja Thifal.
Mengingat wilayah Kabupaten Purworejo yang cukup luas dan terdiri dari 494 desa, mekanisme pengumpulan limbah ini akan dikonsolidasikan melalui penanggung jawab (PIC) atau kader PKK di masing-masing wilayah desa.
Warga cukup menampung minyak jelantah dalam wadah bersih yang tidak terkontaminasi air, untuk kemudian disetorkan melalui alur resmi yang telah disiapkan.
Acara peluncuran program penting ini turut dihadiri oleh sejumlah tokoh, di antaranya Ketua Bidang IV TP PKK Provinsi Jawa Tengah, Lucia Tri Harso, Wakil Ketua III TP PKK Purworejo, Dra. Titik Mintarsih, Direktur PT Biosirkular Inovasi Indonesia, Dicka Dwi Candra serta sebanyak 130 peserta dari unsur perangkat daerah, para camat, serta kader PKK.
Melalui sinergi ini, Pemkab Purworejo berharap “Gerakan Jelantah Jadi Rupiah” tidak berhenti sebatas seremonial kerja sama semata, melainkan benar-benar menjelma menjadi budaya baru masyarakat dalam mengelola limbah rumah tangga secara berkelanjutan dan bernilai ekonomis. (Jon)





