Tembus Ribuan Peserta, BiosfeRun 2026 Sukses Guncang Perbukitan Menoreh

oleh
Ribuan peserta antusias mengikuti BiosfeRun 2026 - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Perbukitan Menoreh mendadak riuh oleh derap langkah 1.080 pelari lokal maupun lintas negara pada Minggu (18/10/2026).

Mengambil titik mula di Lapangan Desa Pagerharjo, Samigaluh, Kabupaten Kulon Progo, ajang trail running bertajuk BiosfeRun 2026 sukses menyuguhkan perpaduan ciamik antara olahraga, keindahan lanskap pedesaan, dan kebudayaan lokal.

Diprakarsai oleh Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB), ajang ini tidak hanya memanjakan mata, tetapi juga menjadi panggung promosi kawasan Cagar Biosfer Merapi Merbabu Menoreh yang telah diakui UNESCO.

Tak main-main, ajang ini menyedot perhatian pelari internasional dari Kolombia, Prancis, Jerman, Jepang, Filipina, hingga pelari domestik dari berbagai daerah di Indonesia.

Para peserta terbagi dalam tiga pilihan kategori tantangan, yakni 7K (364 peserta), 15K (309 peserta), serta kategori paling ekstrem 30K (407 peserta) yang menguji batas ketangguhan dan keberanian menaklukkan jalur alami Menoreh.

Bukan sekadar ajang adu kecepatan, BiosfeRun 2026 membawa pesan mendalam lewat filosofi Jawa “Memayu Hayuning Bawana”, sebuah ajakan untuk senantiasa menjaga keharmonisan dan merawat kehidupan. Konsep ini memadukan pariwisata berbasis alam, pelestarian lingkungan, serta pemberdayaan ekonomi warga lokal.

Plt. Direktur Utama BPOB, Yusuf Hartanto, menegaskan potensi besar dari perpaduan olahraga dan alam dalam memperkenalkan destinasi wisata Borobudur Highland.

Sport tourism, kata Yusuf, memiliki peluang besar untuk memperkenalkan destinasi melalui pengalaman yang autentik. BiosfeRun 2026 tidak hanya menghadirkan kompetisi lari, tetapi juga mengajak peserta menikmati keindahan alam Menoreh dan mengenal potensi Borobudur Highland.

“Kami berharap kegiatan seperti ini dapat mendorong kunjungan wisatawan, menggerakkan ekonomi masyarakat setempat, serta memperkuat pengembangan pariwisata yang berkelanjutan,”
ujar Yusuf Hartanto.

Senada dengan hal tersebut, Direktur Pemasaran BPOB, Harfiansa Bimantara, menyebut ajang ini sebagai sarana promosi langsung yang sangat berkesan bagi para wisatawan mancanegara.

“BiosfeRun 2026 menjadi sarana promosi pariwisata melalui pengalaman langsung yang berkesan. Partisipasi pelari dari berbagai negara diharapkan memperluas jangkauan promosi dan meningkatkan daya tarik destinasi wisata di kawasan Menoreh,” ungkap Harfiansa Bimantara.

Kehadiran jajaran pejabat dari Kementerian/Lembaga, dinas pariwisata DIY dan Jawa Tengah, hingga pemerintah daerah seperti Kulon Progo, Purworejo, dan Magelang menjadi bukti kuatnya kolaborasi lintas wilayah.

Bahkan, Wakil Bupati Purworejo, Dion Agasi Setiabudi, turut menjajal ketatnya lintasan kategori 7K dan mengapresiasi keindahan trek yang disuguhkan.

Dion berharap tahun depan untuk acara BiosfeRun ini dicari lokasinya di Kabupaten Purworejo. Menurutnya, ini bukti salah satu sport tourism yang untuk mengembangkan wilayah, tidak hanya bicara wilayah administrasi kabupaten, tapi pengembangannya ini butuh pengembangan wisata dan ekosistem.

“Jadi berkembang secara bersama-sama baik itu Kulonprogo, Purworejo, dan Magelang, untuk bisa kita bangun suatu kawasan sehingga destinasi Menoreh ini bisa lebih dikenal oleh khalayak lebih luas. Salah satunya melalui event-event termasuk sport tourism BiosfeRun ini,” ungkap Dion Agasi Setiabudi.

Selain mengukuhkan posisi kawasan Menoreh sebagai magnet sport tourism berkelas dunia, perhelatan BiosfeRun 2026 turut memberi dampak instan bagi roda ekonomi warga.

Transaksi UMKM lokal, penjualan produk unggulan desa, hingga tingkat hunian dan kunjungan wisata di sekitar perbukitan Menoreh melonjak seiring tingginya antusiasme peserta dan pengunjung.(Jon)