KORANJURI.COM – Produk lokal dari desa penyangga kawasan wisata tidak lagi cukup sekadar hadir dan dijual. Di era pariwisata modern, sebuah produk membutuhkan identitas yang kuat, cerita yang menyentuh, serta strategi digital yang tepat agar mampu mencuri perhatian wisatawan.
Menjawab tantangan tersebut, Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB) kembali turun tangan mendampingi para pelaku usaha ekonomi kreatif di desa penyangga Zona Otorita Borobudur.
Berlangsung di Purworejo pada Rabu (21/10/2026), kegiatan pendampingan ini membidik empat sektor kunci, yakni kuliner, kriya, fashion, dan eduwisata.
Langkah ini merupakan kelanjutan intensif dari pembekalan materi yang sebelumnya telah digelar pada 8–9 Oktober 2026. Fokus utamanya memastikan teori yang didapat peserta langsung dieksekusi menjadi strategi bisnis yang nyata.
Plt. Direktur Industri Pariwisata dan Kelembagaan Kepariwisataan BPOB, Novita Dwihapsari, menekankan pentingnya eksekusi lapangan dalam proses pendampingan ini.
- BPOB mendampingi pelaku ekraf desa penyangga Borobudur di Purworejo pada Rabu (21/10/2026) untuk perkuat branding dan pemasaran produk lokal.
- Pendampingan fokus pada 4 sektor yakni kuliner, kriya, fashion dan eduwisata, dengan materi identitas brand, storytelling lokal dan digital marketing.
- Branding ditekankan bukan sekadar logo, tapi cara membangun alasan bagi konsumen untuk melakukan pembelian ulang secara berkelanjutan.
“Pendampingan ini menjadi tahap penting agar pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya dapat diterapkan secara nyata dalam pengembangan usaha masing-masing. Peserta tidak hanya memahami materi, tetapi juga didorong untuk memperkuat identitas produk, menyusun storytelling, dan mengoptimalkan pemasaran digital sesuai dengan kondisi usahanya,” tutur Novita.
Dalam sesi pendampingan, para pelaku usaha diajak membedah keunggulan produk mereka, merancang identitas brand, hingga belajar mengemas narasi lokal (storytelling) yang unik.
Tak ketinggalan, pemanfaatan media digital dipraktikkan langsung agar jangkauan pasar produk lokal bisa menembus batas wilayah.
Pentingnya membangun daya pikat produk ini disoroti oleh akademisi dari Sekolah Tinggi Pariwisata (STP) AMPTA Yogyakarta, Dr. I Putu Hardani Hesti Duari, S.St., M.MPar., yang hadir sebagai narasumber. Menurutnya, daya saing sebuah produk sangat ditentukan oleh impresi yang melekat di mata konsumen.
Citra, brand, dan story, kata Putu, akan selalu menyertai sebuah produk. Branding membantu pelaku usaha mengenali karakter produknya sendiri sekaligus memahami pesaing dan segmen pasar yang dituju.
“Karena itu, branding tidak berhenti pada logo, merek, atau desain kemasan, tetapi juga bagaimana membangun identitas produk yang kuat dan menciptakan alasan bagi konsumen untuk melakukan pembelian ulang,” jelas Putu.
Lewat interaksi langsung dan diskusi dalam pendampingan ini, BPOB tidak hanya memberikan bimbingan, tetapi juga memetakan kebutuhan serta kendala riil yang dihadapi para pengusaha lokal. Catatan lapangan ini nantinya menjadi bahan evaluasi untuk merancang program pendampingan lanjutan yang lebih presisi.
Melalui komitmen ini, BPOB terus berupaya merajut keterlibatan aktif masyarakat lokal dalam ekosistem pariwisata Borobudur. Dengan mengubah potensi desa menjadi produk bernilai jual tinggi dan beridentitas kuat, pariwisata Borobudur diharapkan mampu membawa dampak ekonomi yang nyata dan berkelanjutan bagi warga sekitar.(Jon)





