Sampah Kiriman di Pesisir Selatan Bali Sekarang Siklusnya Lebih Panjang

oleh
Ketua TPST-3R Desa Adat Seminyak I Komang Ruditha Hartawan - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Pada periode musiman, pantai di pesisir Bali Selatan selalu kebanjiran sampah kiriman. Karakternya organik namun dalam bentuk batangan kayu dan gelondongan.

Periode datangnya sampah kiriman itu, kata Ketua TPST-3R Desa Adat Seminyak I Komang Ruditha Hartawan atau Koming, biasanya terjadi memasuki bulan Desember hingga Maret.

“Tapi sekarang berubah, munculnya di November sampai April, jadi lebih panjang waktunya,” kata Koming saat menghadiri acara ‘Inisiatif konservasi Wilayah Pesisir’ Kementerian KKP di Badung, Sabtu, 13 Juni 2026.

Meski menurutnya, TPST-3R yang dikelolanya lebih banyak menangani sampah organik. Namun, kemunculan sampah kayu gelondongan cukup menyulitkan untuk ditangani.

Dia mengatakan, untuk batangan kayu yang punya nilai jual seperti kayu jati masih dapat dimanfaatkan. Tapi untuk kayu yang tidak punya nilai ekonomis ditangani oleh TPST yang dikelola pemerintah. Kayu-kayu itu akan dicacah

“Yang masih menimbulkan masalah adalah kayu-kayu yang besar, kalau ranting dan plastik sudah bisa kita tangani,” ujarnya.

Sebagai TPST-3R yang secara mandiri mampu membiayai operasionalnya, Desa Adat Seminyak mampu menangani sampah organik dan anorganik sebanyak 36 ton sehari.

Menurut Koming, pihaknya memiliki dukungan peralatan yang cukup termasuk 28 armada yang bergerak secara bergantian.

Dukungan lain juga diberikan oleh kalangan perhotelan yang berada di kawasan pesisir Selatan di wilayah pantai Oberoi hingga Seminyak.

“Kalau dulu sebelum ada pemilahan residunya mencapai 50-60 persen, tapi sekarang tinggal 26-30 persen. Yang paling utama itu adalah memilah sampah ini adalah dari sumber,” kata Koming. (Way)