KORANJURI.COM – Gaya visual asimetris yang ditampilkan pelukis I Made Rommy Sukadana, justru menjadi identitas berbeda yang secara berani mendobrak kebiasaan para perupa.
Dalam pameran tunggal ‘Divergent Mind’ di Santrian Gallery, Denpasar, pelukis asal Denpasar itu, memberikan pandangan, perubahan itulah yang akhirnya menjadi keabadian.
“Pameran ini menjadi semacam pengakuan diri yang menegaskan kebebasan dalam membuat karya. Dari 24 karya yang saya pamerkan, saya gunakan teknik yang berubah-ubah,” kata Rommy, Jumat, 9 Januari 2026.
Menurutnya, seni tidak harus linier dan stabil. Seniman punya otoritas penuh dengan karya-karyanya. Ukuran pencapaian menurutnya bukan pada kelaziman dan kebiasaan yang dilakukan oleh setiap seniman.
Hal itu terlihat dari karya-karyanya seperti ‘Kira-kira Superman (Thinker)’ yang cenderung lebih realis. Kemudian, karya yang lain berjudul ‘Irama Alam’ dan ‘Harmony’ berubah menjadi abstraksi.
Menurut Rommy, karya lukisannya mengalir begitu saja sesuai apa yang dirasakan dan diinginkannya.
“Bahkan, ketika saya lagi mengerjakan realis, tiba-tiba berpikir abstraksi, saya bisa tinggalkan dan mengerjakan apa yang terlintas di pikiran saya,” ujarnya.
Ide lukisannya pun berkembang sesuai imajinasi yang tak lepas dari pemahaman kearifan lokal yang ada di Bali.
Satu karyanya berjudul ‘Exotic Bali’ menghadirkan sosok Mona Lisa karya Leonardo da Vinci yang berpusat pada senyumnya yang misterius.
Namun, Rommy menginterpretasikan Mona Lisa sebagai sosok perempuan yang mengenakan payas agung di kepala layaknya tiara pengantin wanita Bali.
“Saya tetap berpijak pada realis, figur Mona Lisa di dunia seni rupa banyak yang mengenal, kalau dibawa ke eksotik Bali juga banyak yang mengenalnya,” kata Rommy.
Kurator pameran ‘Divergent Mind’ I Made Susanta Dwitanaya mengatakan, karya Made Rommy menghasilkan variasi visual.
Perbedaan gaya dalam karya-karyanya tidak mudah dibaca sebagai fase kronologis yang rapi. Tapi, bergerak non-linier seolah menolak kelaziman dalam sejarah seni moderen.
“Rommy secara sadar seperti menolak kelaziman itu. Kebiasaan yang dia pakai cenderung berbeda-beda, ada yang sifatnya realistik, surealis, ada juga yang karikatural, itu yang secara jelas menunjukkan karakter Rommy dalam berkesenian,” kata Made Susanta. (Way)





