KPPAD Bali Sebut Pelaku Pembunuhan Karyawati Bank Menyesal

    


Komisi Penyelenggara Perlindungan Anak (KPPAD) Bali menggelar keterangan pers terkait upaya advokasi terhadap pelaku anak dalam kasus pembunuhan terhadap seorang karyawati Bank, Sabtu, 2 Januari 2021 - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – AHP (14) pelaku pembunuhan terhadap Putu Widiastuti (24) seorang karyawati Bank di Badung mengaku menyesal. Kepada tim dari Komisi Penyelenggara Perlindungan Anak (KPPAD) Bali, pelaku juga mengakui tidak ada niat melukai korbannya apalagi sampai membunuh.

“Kondisinya masih syok belum bisa diajak bicara. Dia juga minta maaf,” kata Ketua KPPAD Bali Anak Agung Sagung Anie Asmoro di Denpasar, Sabtu, 2 Januari 2021.

Kepada anak yang berkonflik dengan hukum, KPPAD melakukan pengawasan terutama dalam prosesnya. Selama disel di tahanan polisi, KPPAD melihat, pelaku yang notabene masih anak dibawah umur telah mendapatkan penanganan dengan baik.

Anie Asmoro mengatakan, dalam kasus ini pelaku berasal dari keluarga yang sarat dengan persoalan, terutama permasalahan ekonomi. Kedua orangtuanya bercerai dan pelaku sudah bekerja sejak usia masih belia.

“Pelaku putus sekolah, ibunya juga punya anak dalam usia yang belum siap,” kata Anie.

Wakil Ketua KPPAD dan Komisioner Bidang Pengasuhan Keluarga Eka Santi Indra Dewi menambahkan, dalam kasus yang melibatkan pelaku anak dibawah umur, polisi maksimal boleh melakukan penahanan selama 7 hari dan diperpanjang menjadi 8 hari. Sedangkan di Kejaksaan maksimal penahanannya 10 hari.

“Dalam kasus yang melibatkan anak, polisi juga dikejar dengan deadline untuk segera melimpahkan berkasnya ke Kejaksaan,” jelas Eka.

Dalam pendampingan ini, pihaknya juga memastikan, pelaku masih mendapatkan haknya sebagai anak dan ditahan di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA). Disitu, hak dasar seperti sekolah atau kejar paket tetap dijamin oleh negara.

“Saat ini masih proses hukum, kita hormati. Tapi nanti kalau sudah ditahan, kita berikan advokasi agar hak-haknya terpenuhi,” jelasnya.

Data global KPPAD mencatat selama kurun waktu 2017-2020, ada 746 anak yang berhadapan dengan hukum. Jumlah itu terdiri dari Anak yang jadi pelaku sebanyak 400 orang dan 346 anak yang jadi korban.

Sejak tahun 2017, pencurian jadi kasus yang paling mendominasi dilakukan oleh anak. Menyusul, kasus kekerasan seksual dengan anak sebagai korban. (Way)