Gubernur Minta Perbekel dan Bendesa Adat Percepat Wujudkan Desa Kerthi Bali Sejahtera

    


Gubernur Bali Wayan Koster saat penyerahan insentif kepada Perbekal dan Bendesa Adat se-Bali di Gedung Gajah, Jayasabha, Denpasar, Minggu, 9 Januari 2022 - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Gubernur Bali Wayan Koster meminta Tim Desa Kerthi Bali Sejahtera yang telah terbentuk agar mempercepat pelaksanaan program pembangunan Provinsi Bali di Desa dan Desa Adat.

Desa Kerthi Bali Sejahtera menurut Koster berperan sebagai fasilitator dan mediator dalam menjalankan sejumlah kebijakan pemerintah melalui peraturan gubernur yang selama ini telah dirilis ke publik.

“Kita berharap dengan pemberian insentif ini semua perbekel dan Bendesa adat se Bali akan semakin memperkuat komitmen partisipasi dan tanggung jawab untuk mensukseskan program prioritas pemprov Bali menuju Bali era baru,” kata Gubernur Bali Wayan Koster di Jayasabha, Denpasar, Minggu, 9 Januari 2022.

Koster berharap, Peraturan Gubernur yang ada dapat diimplementasikan di tingkat Desa dan Desa Adat di Bali. Hal itu untuk mendukung bisi Nangun Sat Kerthi Loka Bali menuju Bali Era Baru.

Disebutkan, wilayah publik dan tempat-tempat tertentu seperti, Pura, pasar maupun perkantoran menggunakan aksara Bali.

“Sesuai dengan Pergub, aksara Bali diatas dan aksara Latin di bawah,” ujarnya.

Selain itu, Koster juga menyoroti tentang penanganan sampah berbasis sumber. Gubernur menekankan dukungan terhadap penanganan sampah berupa infrastruktur telah disiapkan di tingkat Kabupaten/Kota.

Infrastruktur itu meliputi, Tempat Pengelolaan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) dan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST).

“Nantinya tidak ada lagi TPA yang berjubel seperti di TPA Suwung, itu akan kita akhiri sampai akhir tahun 2022,” kata Koster.

Tidak itu saja, penggunaan sampah plastik sekali pakai juga menjadi evaluasi Gubernur saat penyerahan insentif kepada Perbekel dan Bendesa Adat se-Bali, Minggu (9/1/2022).

“Saya berharap supaya di desa-desa tidak lagi ada tas plastik sekali pakai. Jadi ibu-ibu kalau berbelanja supaya membawa tas , pasar tradisional di desa jangan menyiapkan tas kresek,” ujarnya. (Way)