Cerita Pemburu Kerja di Jepang, Rela Ikut Tes di Bali untuk Lolos Seleksi

oleh
Kandidat magang ke negara Jepang di LPK Darma, Denpasar - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Kisah Ahmad Aprilian (21) menjadi salah satu bentuk kegigihan yang tampak dari generasi Z. Remaja asal Banyuwangi itu datang ke Bali untuk mengikuti tes wawancara magang ke Jepang.

Dia datang ke LPK Darma di jalan Mahendradatta, Denpasar. Di situ, perwakilan dari perusahaan pengolahan daging yang berlokasi di prefektur Ibaraki, Jepang, siap meng-interview. Dia tidak sendirian.

Ada 42 kandidat yang menunggu tes serupa, sedangkan perusahaan hanya membutuhkan 12 orang terdiri dari 6 laki-laki dan 6 perempuan. Artinya, Ahmad harus bersaing dengan puluhan kandidat yang lain.

“Saya sudah seratus persen siap secara mental dan tekad,” ujar Ahmad di Denpasar, Selasa, 23 Juni 2026.

Ahmad mengatakan, dirinya datang ke Denpasar bukan tanpa persiapan. Justru, sebelumnya pernah mengikuti pelatihan bahasa Jepang selama 7 bulan di lembaga daerah asalnya.

“Dari pihak keluarga, seperti Ibu dan Kakak, semuanya sangat mendukung penuh langkah saya ini,” ujarnya.

Peluang kerja di negeri orang dengan gaji yang dipandang worth it, Rp18 juta hingga Rp20 juta per bulan, menjadi motivasi kuat bagi ahmad.

Dengan kontrak kerja selama 3 tahun, selepasnya pekerja magang dapat memperpanjang visa kerja non magang. Harapan itu menguatkan semangat para peserta untuk mengikuti tes wawancara.

“Saya berharap proses seleksi kali ini membuahkan hasil yang positif,” kata Ahmad.

LPK Darma sebagai lembaga resmi penyalur tenaga kerja ke Jepang, bukan kali ini saja mengantarkan anak-anak muda yang ingin berkarir di mancanegara. Setidaknya sudah ada lebih dari 450 orang yang berhasil di kirim ke luar negeri.

Jepang menjadi negara tujuan terbanyak yang menerima pekerja asal Indonesia.

Direktur LPK Darma Mega Devia In Baliani mengatakan, Jepang menjadi negara spesifik yang mutlak membutuhkan penguasaan bahasa nasional.

Tingkatan kemampuan bahasa yang dikuasai peserta wawancara akan membuka peluang lolos bekerja di negeri Matahari Terbit.

“Penilaian menitikberatkan pada sikap dan cara memperkenalkan diri, jikoshoukai, artikulasi pelafalan bahasa. Ada lagi, CV dan angket kepribadian calon magang juga menjadi acuan penting,” kata Mega.

Khusus untuk perusahaan pengelolaan daging di Prefektur Ibaraki, kata Mega, perwakilan perusahaan ingin merekrut sendiri. Mereka langsung datang dari Jepang ke Bali.

Pihaknya sebelumnya telah menjalin kerjasama dengan mitra lain di Prefektur atau Provinsi yang sama. Namun, kebutuhan tenaga kerja di negeri Sakura itu cukup banyak. Pada akhirnya, perusahaan lain juga ikut mencari tenaga kerja asal Indonesia.

“Perusahaan pengolahan daging ini baru pertama kali, tapi kami sudah banyak punya mitra di Prefektur yang sama,” ujarnya.

Mega mengatakan, mayoritas tenaga kerja yang dikirim ke Jepang menduduki perusahaan di bidang konstruksi dan pertanian. (Way)