KORANJURI.COM – Elang Jawa (Nisaetus bartelsi) cukup sering dilaporkan keberadaannya di Pulau Bali. Catatan M. Sacchi menjadi petunjuk tertua yang diperoleh, tentang kemungkinan keberadaan Elang Jawa di Bali terjadi pada bulan Oktober 1994.
Saat itu, dijumpai sepasang elang atau 2 individu pada ketinggian 700-750 mdpl di wilayah Taman Nasional Bali Barat atau berada di kawasan Gunung Klatakan, Jembrana.
Ornitolog (ahli burung) dan guru besar bidang ekologi hewan dari Universitas Udayana Prof. Dra. Luh Putu Eswaryanti Kusuma Yuni, M.Sc., Ph.D. menjelaskan, deskripsi dari burung ini tidak lazim untuk dugaan spesiesnya.
Karena distribusi spesiesnya tercatat tidak meliputi wilayah Bali. Pertemuan dengan burung yang secara kosmologi dikaitkan dengan Burung Faruda pada lambang negara itu, masih bersifat catatan.
“Karena dulu statemennya itu Elang Jawa berada di Pulau Jawa saja, jadi kan masih belum berani menyatakan kalau itu Elang Jawa tapi ditemukan di Bali,” kata Eswaryanti di Denpasar, Minggu, 23 Agustus 2026.
“Namun, pasca tahun 2000 kembali muncul catatan disertai dokumentasi yang kuat tentang migrasi Elang Jawa di Bali,” tambahnya
Periode tahun 2000-2010, dari pemaparan Eswaryanti, ada tiga catatan perjumpaan yakni, pada tahun 2005, 2008, dan 2010. Ketiga catatan perjumpaan itu berasal dari kawasan yang sama, di bagian Tengah Pulau Bali, di dataran tinggi Bedugul.
Perjumpaan di bulan Juni 2005 dilaporkan oleh staf PPS Bali Oni Purwoko Basuki bersama staf BKSDA Bali Fatur Rohman dan beberapa volunteer.
Saat itu didapatkan informasi bahwa salah seorang masyarakat Dusun Munduk Langki, yang berada di lereng Gunung Lesung, menangkap seekor burung elang yang sering memangsa ayam milik masyarakat di sekitar dusun tersebut.
Elang itu sempat difoto dan dikonfirmasi spesiesnya sebagai Elang Jawa oleh Zaini Rakhman (YPAL).
Pada tanggal 16 Juli 2008, Ni Wayan Sumadi dari Bali Bird Walk melaporkan perjumpaan dengan terduga Elang Jawa di Kebun Raya Eka Karya Bedugul, Tabanan.
Individu ini dilaporkan sedang hinggap di dahan pohon yang tinggi pada saat tengah hari. Perjumpaan tersebut juga disaksikan oleh dua orang pengamat burung dari Inggris, Nigel Rampton dan Paul Popple.
Tahun 2010, kembali dilaporkan perjumpaan dengan Elang Jawa yang terlihat terbang di atas Danau Tamblingan.
Elang Jawa bukan hanya satwa liar dilindungi sebagai raptor predator puncak. Penampilannya yang gagah dengan jambul khas di kepala itu juga menjadi simbol asal usul Lambang Negara Garuda.
Sebagai satwa residen di Pulau Jawa, penguasa angkasa itu memiliki ikatan emosional yang kuat dengan bangsa Indonesia.
Eswaryanti melanjutkan, sejumlah kejadian perjumpaan Elang Jawa di Bali, juga tercatat dan terdokumentasi dengan baik pada kurun 2010-2020.
Ada tiga perjumpaan sepanjang satu dasawarsa tersebut. Pada tahun 2011 dan 2016 dilaporkan oleh Fatur Rohman, berjumpa dengan Elang Jawa di Kawasan TWA Buyan-Tamblingan.
Tahun 2016, individu Elang Jawa sedang terbang melintas di atas Danau Buyan menuju ke arah Kebun Raya Eka Karya Bedugul pada tanggal 8 Juli 2016. Pengambilan foto dilakukan dari kawasan geotermal Bedugul oleh Fatur Rohman.
Masih di tahun yang sama 2016, tercatat juga perjumpaan dengan Elang Jawa di Kebun Raya Eka Karya Bedugul oleh John Bargman.
“Seperti yang ditampilkan pada platform e-bird, individu juvenile, anakan ini terdokumentasi sedang hinggap di dahan pohon Cemara Geseng Casuarina junghuhniana,” kata Eswaryanti.
Selain catatan dari kawasan dataran tinggi Bedugul, terdapat pula catatan perjumpaan dari wilayah timur Pulau Bali.
Pada tanggal 24 Oktober 2014, Rusman Budi Prasetya mendokumentasikan perjumpaan dengan individu elang jawa dewasa di Gunung Sega, Karangasem Bali.
“Kalau ditemukan ada anakannya, ada kemungkinan besar Elang Jawa juga berkembang biak di wilayah Bali. Anakan ini bulunya agak kemerahan,” jelas Eswaryanti.
Pada 25 Juli 2025, seekor Elang Jawa dewasa diserahkan kepada BKSDA Bali dan dirawat di ke PPS Tabanan. Menurut keterangan, satwa tersebut diserahkan oleh warga Denpasar kepada Dinas Damkar Denpasar. (Way)





