KORANJURI.COM – Bahasa Jawa tidak cukup hanya dipelajari di ruang kuliah. Bahasa dan sastra Jawa perlu terus dihidupkan, ditulis, dibaca, dikembangkan, dan diwariskan melalui karya-karya yang mampu berbicara kepada generasi masa kini.
Semangat tersebut diwujudkan oleh Wijang Wijanarko, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa (PBSJ) Universitas Muhammadiyah Purworejo (UMPWR), melalui keberhasilannya menulis novel berbahasa Jawa berjudul “Sudarsana Labuh” yang ‘dirilis’ pada 30 Juli 2026 usai sidang penelitian.
Karya tersebut menjadi capaian yang membanggakan karena menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya menempatkan bahasa dan sastra Jawa sebagai objek pembelajaran akademik, tetapi juga sebagai ruang untuk berkarya, berekspresi, berkreasi, dan menghasilkan produk intelektual yang dapat dinikmati masyarakat.
Dalam proses penyusunan novel Sudarsana Labuh, Wijang Wijanarko mendapatkan bimbingan akademik dari Dr. Herlina Setyowati, M.Pd. selaku Pembimbing 1 dan Dr. Aris Aryanto, M.Hum. selaku Pembimbing 2. Sementara itu, proses pengujian karya melibatkan Rochimansyah, M.Pd. sebagai Penguji Utama.
Keterlibatan para dosen pembimbing dan penguji tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan akademik lahirnya karya sastra mahasiswa. Melalui proses bimbingan, diskusi, penyempurnaan, dan pengujian, gagasan kreatif mahasiswa diarahkan agar tidak hanya memiliki nilai estetis, tetapi juga memiliki landasan keilmuan dan kualitas akademik.
Kehadiran Sudarsana Labuh menjadi capaian yang bermakna karena memperlihatkan bagaimana proses pendidikan di perguruan tinggi dapat menghasilkan karya nyata. Pengetahuan tentang bahasa, sastra, budaya, karakter manusia, serta kehidupan sosial bertemu dalam sebuah karya yang lahir dari kreativitas mahasiswa.
Lebih dari sekadar menghasilkan sebuah novel, karya Wijang Wijanarko menjadi salah satu bukti nyata implementasi visi keilmuan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa.
Visi keilmuan PBSJ memiliki relevansi yang kuat dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni (IPTEKS) serta kebutuhan masyarakat karena mengintegrasikan keilmuan pendidikan, bahasa, dan sastra Jawa dengan perkembangan teknologi, pembelajaran digital, literasi, kreativitas, serta tuntutan kompetensi dunia kerja.
Keberhasilan mahasiswa menghasilkan karya sastra menunjukkan bahwa pembelajaran sastra akan memperoleh makna yang lebih dalam ketika mahasiswa diberi ruang untuk bergerak dari membaca menuju mencipta, dari memahami teori menuju menghasilkan karya, dan dari ruang akademik menuju ruang publik.
Novel Sudarsana Labuh menjadi representasi dari proses tersebut. Pengetahuan yang diperoleh mahasiswa selama perkuliahan tidak berhenti sebagai konsep, teori, atau tugas akademik, tetapi berkembang menjadi kompetensi kreatif yang menghasilkan karya nyata.
Dalam perspektif pendidikan, proses penciptaan novel membutuhkan kemampuan yang kompleks. Seorang penulis harus mampu membangun gagasan, memilih dan mengolah bahasa, menyusun alur cerita, menghadirkan tokoh dan konflik, memahami konteks sosial budaya, serta menyampaikan nilai dan pengalaman kemanusiaan melalui cerita.
Karena itu, lahirnya karya sastra mahasiswa dapat dipandang sebagai salah satu bentuk pembelajaran berbasis pengalaman dan produk (product-based learning) yang mempertemukan pengetahuan, keterampilan, kreativitas, ketekunan, dan kepekaan sosial.
Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola komunikasi masyarakat, pelestarian bahasa Jawa menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Generasi muda hidup dalam lingkungan yang sangat dekat dengan media digital, media sosial, serta beragam bentuk komunikasi baru.
Kondisi tersebut menuntut pendidikan bahasa dan sastra Jawa untuk tidak hanya berbicara tentang bagaimana budaya diwariskan, tetapi juga bagaimana warisan tersebut dibuat tetap relevan, menarik, dan mampu hadir dalam kehidupan generasi berikutnya.
Karya seperti Sudarsana Labuh memperlihatkan bahwa bahasa Jawa tetap memiliki ruang untuk tumbuh melalui kreativitas generasi muda. Bahasa Jawa dapat hadir bukan hanya sebagai bahasa yang dipelajari karena kewajiban akademik, tetapi sebagai bahasa untuk mengekspresikan pikiran, pengalaman, imajinasi, kegelisahan, serta nilai-nilai kehidupan.
Dengan demikian, mahasiswa PBSJ tidak semata-mata dipersiapkan menjadi orang yang mengetahui bahasa dan sastra Jawa, melainkan menjadi generasi pencipta, pengembang, dan penggerak literasi Jawa.
Kelahiran novel Sudarsana Labuh juga memperlihatkan bahwa kompetensi mahasiswa PBSJ memiliki hubungan erat dengan perkembangan literasi dan teknologi. Sebuah karya sastra pada masa sekarang tidak lagi terbatas pada teks cetak. Karya dapat dikembangkan dan diperluas jangkauannya melalui buku elektronik, platform literasi digital, media sosial, konten audio, pembacaan sastra digital, podcast, video kreatif, hingga berbagai bentuk adaptasi multimedia.
Di sinilah integrasi visi keilmuan PBSJ dengan perkembangan IPTEKS memperoleh konteks yang nyata. Penguasaan bahasa dan sastra Jawa menjadi fondasi keilmuan, sementara teknologi membuka ruang baru bagi mahasiswa untuk mendokumentasikan, mengembangkan, memublikasikan, dan mendiseminasikan karya kepada masyarakat yang lebih luas.
Teknologi, dalam konteks ini, bukan semata-mata dipandang sebagai ancaman bagi keberlangsungan bahasa daerah. Sebaliknya, teknologi dapat menjadi jembatan yang mempertemukan kekayaan budaya Jawa dengan kehidupan generasi digital.
Keberhasilan Wijang Wijanarko menulis Sudarsana Labuh sekaligus memberikan gambaran bahwa kompetensi lulusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa tidak terbatas pada profesi guru.
Kemampuan menulis, menyunting, mengembangkan cerita, mengelola bahasa, memahami budaya, membangun komunikasi, dan menghasilkan konten merupakan kompetensi yang semakin dibutuhkan dalam ekosistem kerja kreatif.
Kompetensi tersebut dapat menjadi modal bagi mahasiswa untuk mengembangkan diri dalam bidang kepenulisan, penyuntingan, penerbitan, jurnalistik, pengembangan bahan ajar, industri konten, media digital, kebudayaan, kewirausahaan kreatif, maupun pengembangan media pembelajaran berbasis bahasa dan budaya Jawa.
Dengan demikian, pembelajaran PBSJ diarahkan untuk tetap berakar kuat pada identitas budaya sekaligus memiliki keberanian untuk merespons perubahan zaman. Mahasiswa tidak hanya dibekali kemampuan untuk menjaga sesuatu yang telah diwariskan, tetapi juga kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang dapat diwariskan.
Sudarsana Labuh pada akhirnya bukan hanya cerita tentang sebuah novel yang berhasil ditulis oleh mahasiswa. Di balik lembar demi lembar karya tersebut terdapat proses belajar, ketekunan, keberanian menuangkan gagasan, kecintaan terhadap bahasa Jawa, serta kesediaan seorang generasi muda untuk ikut menjaga keberlanjutan sastra Jawa melalui jalan kreatif.
Capaian Wijang Wijanarko memberikan pesan penting bahwa pelestarian bahasa dan sastra Jawa tidak selalu harus dimulai melalui langkah besar. Ia dapat berawal dari keberanian seorang mahasiswa membuka halaman kosong, menuliskan kalimat pertama, kemudian dengan tekun mengubah gagasan menjadi sebuah karya.
Bagi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa, lahirnya Sudarsana Labuh memperkuat argumentasi bahwa visi keilmuan PBSJ relevan dengan perkembangan IPTEKS dan kebutuhan masyarakat. Integrasi pendidikan, bahasa, sastra, teknologi, literasi, dan kreativitas bukan sekadar gagasan yang tertulis dalam dokumen akademik, tetapi dapat diwujudkan melalui pengalaman dan karya mahasiswa.
Pada titik inilah pendidikan memperoleh wajahnya yang paling humanis. Keberhasilan pembelajaran tidak hanya dilihat dari angka dan nilai akademik, tetapi juga dari tumbuhnya manusia yang mampu berpikir, merasa, mencipta, serta memberikan sesuatu yang bermakna bagi masyarakat dan kebudayaannya.
Melalui Sudarsana Labuh, Wijang Wijanarko telah mengambil bagian dalam perjalanan tersebut: membawa bahasa Jawa dari ruang pembelajaran menuju ruang penciptaan, dari pengetahuan menuju karya, serta dari warisan masa lalu menuju harapan bagi masa depan.
Sebab, bahasa akan tetap hidup ketika masih ada generasi yang bersedia menggunakannya; sastra akan terus bertumbuh ketika masih ada yang berani menciptakannya; dan kebudayaan akan terus menemukan masa depannya ketika generasi muda diberi ruang untuk menjadi bagian dari perjalanan itu. (Jon)





