BI: Inflasi di Bali Sepanjang 2021 Tercatat 2,07 Persen

    


Ilustrasi pasar tradisional - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Sepanjang tahun 2021 Bali mencatatkan inflasi sebesar 2,07% (yoy) atau berada dalam sasaran inflasi nasional 3±1%.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho mengatakan, kelompok barang volatile food pada bulan Desember 2021 mengalami inflasi sebesar 3,75% mtm.

Peningkatan harga terutama terjadi pada komoditas cabai rawit, minyak goreng, dan telur ayam ras.

“Provinsi Bali mencatat inflasi sebesar 0,88% (mtm), meningkat dibanding bulan sebelumnya yang mencatatkan inflasi sebesar 0,63% (mtm),” kata Trisno Nugroho, Selasa, 4 Januari 2022.

Menurutnya, peningkatan tekanan harga cabai rawit disebabkan oleh tingginya curah hujan yang mengganggu tingkat produksi.

Sedangkan, peningkatan harga komoditas minyak goreng seiring dengan tren kenaikan harga minyak sawit dunia sejak awal tahun.

Sementara itu, meningkatnya harga telur ayam ras tidak terlepas dari upaya Pemerintah dalam menjaga kestabilan harga daging ayam ras yang sebelumnya tercatat rendah.

“Kelompok barang administered price mencatat inflasi sebesar 0,48% mtm,” ujarnya.

Peningkatan tekanan harga terutama terjadi pada harga angkutan udara seiring dengan meningkatnya aktivitas penerbangan ke Bali.

Kelompok barang core inflation juga mengalami inflasi sebesar 0,33% mtm. Terutama disebabkan oleh naiknya harga canang sari.

Peningkatan harga canang sari seiring dengan meningkatnya frekuensi upacara keagamaan pada bulan Desember sabagai bulan baik bagi umat Hindu.

“Selain itu, peningkatan tekanan harga juga terjadi seiring dengan meningkatnya permintaan masyarakat di tengah perayaan Nataru,” kata Trisno Nugroho.

BI memperkirakan inflasi tahun 2022 lebih tinggi dibanding inflasi tahun 2021. Namun, masih dalam kisaran sasaran inflasi 3±1%.

Kelompok barang core inflation dan administered price diperkirakan akan meningkat sejalan dengan pemulihan permintaan masyarakat secara bertahap. (Way)