KORANJURI.COM – Kunjungan wisatawan, baik mancanegara maupun domestik, menjadi salah satu indikator penting dalam melihat kondisi dan pertumbuhan ekonomi Bali.
Menurutnya, pariwisata memiliki keterkaitan erat dengan berbagai sektor ekonomi masyarakat, mulai dari perhotelan, vila, restoran, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), transportasi, hingga pertanian dan penyediaan pangan.
- Gubernur Koster menyatakan bahwa cara paling mudah melihat kondisi ekonomi Bali adalah dengan memantau pergerakan kunjungan wisatawan mancanegara maupun domestik.
- Ekonomi pariwisata menyebar ke seluruh kabupaten/kota di Bali dan berdampak langsung pada perhotelan, UMKM, transportasi, hingga sektor pertanian.
- Sektor pariwisata menyumbang sekitar 66% bagi perekonomian Bali pada 2025 dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,82%.
Ekonomi pariwisata tidak hanya memberikan manfaat bagi pelaku usaha pariwisata, tapi juga mendorong aktivitas ekonomi masyarakat secara lebih luas.
Hal tersebut disampaikan Gubernur Koster saat menghadiri Temu Wirasa Stakeholders 2026 yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali di Gedung Dharma Negara Alaya, Denpasar, Jumat (23/10/2026).
“Secara umum, melihat ekonomi Bali bagus atau tidak, itu sederhana. Dapat dilihat dari jumlah wisatawan yang berkunjung ke Bali, baik wisatawan asing maupun domestik, apakah naik atau turun,” kata Koster.
Kontribusi sektor pariwisata terhadap perekonomian Bali pada 2025 mencapai sekitar 66 persen. Besarnya kontribusi tersebut menunjukkan bahwa dinamika pariwisata memiliki pengaruh signifikan terhadap kinerja perekonomian daerah.
Karena itu, keberlanjutan sektor pariwisata menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi Bali.
Dari sisi kunjungan wisatawan, Gubernur Koster menyampaikan bahwa perkembangan wisatawan mancanegara (wisman) hingga akhir September 2026 menunjukkan tren positif dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
“Meski sempat mengalami penurunan pada Februari hingga April 2026 akibat dinamika geopolitik global, kunjungan wisman kembali pulih dan menunjukkan peningkatan,” jelasnya.
Pada 2025 kunjungan wisman mencapai sekitar 7,05 juta orang. Menurutnya, pencapaian tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah pariwisata Bali. Bahkan, melampaui jumlah kunjungan sebelum pandemi COVID-19 pada 2019.
Sejalan dengan perkembangan pariwisata, perekonomian Bali pada 2025 mencatat pertumbuhan sebesar 5,82 persen. Koster menilai pencapaian tersebut punya arti penting karena struktur perekonomian Bali ditopang sektor pariwisata dan aktivitas ekonomi masyarakat.
“Bedanya ekonomi berbasis sumber daya alam dengan ekonomi pariwisata sangat jauh. Kalau ekonomi berbasis sumber daya alam, seperti tambang, minyak, gas, dan emas, hanya terkonsentrasi di satu tempat. Namun, kalau ekonomi berbasis pariwisata, dampaknya menyebar ke seluruh kabupaten/kota di Bali,” jelasnya. (*/Way)





