A Leaf of Bali Buku Karya Ye Lu Membedah Keunikan Tradisi dan Pariwisata Pulau Dewata

oleh
Launching buku 'A Leaf of Bali' karya Ye Lu berlangsung di kawasan Nusa Dua dan ditandai dengan pemukulan gong, Sabtu, 19 September 2026 - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – A Leaf of Bali, buku karya penulis Ye Lu menjadi jembatan budaya antara Bali dan Tiongkok. Buku setebal 400 halaman itu menjadi referensi mengenal Bali lebih dalam dan disampaikan dengan gaya bahasa lugas.

Melalui buku pertamanya yang dilaunching di kawasan Nusa Dua, Badung pada Sabtu, 19 September 2026 itu, Ye Lu bukan saja berkisah tentang Bali. Tapi menawarkan fakta menarik tentang apa yang ada di Pulau Dewata.

Kebudayaan, tradisi hingga destinasi wisata ia jelajahi dengan gaya bahasa yang mudah dicerna. Meski, isi seluruh bukunya ia tulis dalam bahasa Mandarin.

Budayawan Bali I Made Bandem mengatakan, buku ‘A Leaf of Bali’ karya Ye Lu, isinya disampaikan secara atraktif dan impresif. Konten dari buku karya penulis asal China itu menurut Made Bandem, merepresentasikan hubungan antara kebudayaan China dan Bali.

“Ketika beliau menulis tentang buku ini, semua guntingan surat kabar yang terbit di China, di Beijing, dikirimkan ke saya. Karena dia seorang wartawan maka tulisannya itu konkuren, apa yang di dapat di lapangan itu yang ditulis dia,” kata Made Bandem saat menghadiri launching buku ‘A Leaf of Bali’.

Made Bandem juga melihat, buku karya Ye Lu punya warna tersendiri dan berbeda dibandingkan dengan buku-buku karya penulis lainnya. Penjelasan tentang apa yang ada di Bali secara menyeluruh menurutnya sangat komprehensif.

“Dia juga menyematkan gambar-gambar, memberikan keterangan secara komprehensif dari narasumber yang ia wawancara. Unik menurut saya,” jelas I Made Bandem

Prof. Dr. I Made Bandem berharap, buku berbahasa Mandarin itu dialihbahasakan ke dalam banyak bahasa terutama Bahasa Indonesia.

“Dari buku ini, kita berharap generasi muda Bali dapat belajar tentang hubungan antara Indonesia dengan China, khususnya Bali,” harap Made Bandem.

Ye Lu menulis ‘A Leaf of Bali’ saat berlangsung Pandemi Covid-19 pada pertengahan tahun 2020 hingga rampung sepenuhnya di tahun 2022. Menurutnya, saat pandemi berlangsung Bali benar-benar sepi wisatawan.

Turis China yang sebelumnya mendominasi peringkat kunjungan tak dapat melakukan perjalanan ke Pulau Dewata.

“Tapi sekarang Bali kembali indah dan buku pertama ini saya dedikasikan untuk Bali. Saya berharap, lebih banyak turis China datang setelah membaca buku saya. Kalau belum pernah ke Bali, saya berharap buku ini memberikan inspirasi, mereka langsung bisa beli tiket ke Bali,” kata Ye Lu.

‘A Leaf of Bali’ salah satu isinya membedah daftar destinasi menarik di Bali yang dapat ditempuh dalam waktu 30 menit hingga 3 jam perjalanan.

Menurutnya, Bali menjadi Pulau dengan paket lengkap yang dapat dinikmati sesuai dengan selera pribadi wisatawan. Dia menyebut, budaya dan tradisi menawarkan vibrasi berbeda yang tak ditemukan di tempat lain.

“Bali Pulau yang sangat unik, ibarat kita bisa menjelajah langit mendaki di Gunung Agung, hingga sampai dasar laut dengan diving atau snorkeling, bisa yang cruise. Kalau suka yoga bisa ke Ubud, kalau suka party bisa ke Legian atau Kuta. Semua bisa dapat yang comfort zone sesuai selera,” kata Ye Lu.

Saat ini, Ye Lu memiliki harapan untuk merilis ulang ‘A Leaf of Bali’ dalam bahasa Indonesia dan Inggris.

“Tahun depan semoga bisa terbit versi bahasa Indonesia dan Inggris,” ujarnya.

Biografi

Ye Lu dengan karya bukunya ‘A Leaf of Bali’ – foto: Koranjuri.com

Pendidikan Bahasa Mandarin dan Pertukaran Budaya
Ye Lu adalah founder Bali Chinese Center yang didirikan pada tahun 2014. Lembaga ini menyediakan pelatihan bahasa Mandarin serta layanan penerjemahan bagi institusi lokal, hotel, dan instansi pemerintah.

Ia juga pendiri Asosiasi Pertukaran Budaya Tiongkok-Indonesia yang aktif mempromosikan interaksi antarwarga dan pertukaran budaya antara kedua negara. Di tingkat resmi, ia ditunjuk sebagai Konsultan Senior untuk Pasar Tiongkok oleh Bali Tourism Board dan menjabat sebagai kepala Indonesia–Linhai Hailian Station.

Ia mempromosikan hubungan budaya antara Linhai (Zhejiang) dan Bali dalam perannya bersama Federasi Tionghoa Perantauan (Overseas Chinese Federation).

Media dan Penulisan
Ye Lu adalah reporter senior untuk surat kabar International Daily News di Indonesia, dan telah lama meliput perkembangan di bidang ekonomi, perdagangan, budaya, serta pendidikan antara Tiongkok dan Indonesia.

Pada tahun 2026, ia menerbitkan buku berjudul ‘A Leaf of Bali’, yang menggunakan metafora ‘sehelai daun’ untuk mendokumentasikan keindahan alam, kepercayaan religius, dan kehidupan sehari-hari di Bali.

Buku tersebut mendapat dukungan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tiongkok dan Bali Tourism Board.

Kegiatan Sosial dan Urusan Publik
Ye Lu kerap berpartisipasi dalam kegiatan diplomasi publik antara Tiongkok dan Indonesia.

Sebagai contoh, ia menghadiri acara pertukaran Asia-Pacific Little Diplomats di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Tiongkok. Di mana, ia memperkenalkan warisan budaya Bali seperti tarian tradisional, instrumen gamelan, dan sistem irigasi subak, kepada generasi muda Tiongkok.

Selain itu, sebagai perwakilan media, ia juga terlibat dalam wawancara bertema ‘Belt and Road’ serta peliputan budaya di Xinjiang dan berbagai wilayah lainnya. (Way)