KORANJURI.COM – Memulihkan tata air dengan menanam bambu di kawasan Pura Lempuyangan, Karangasem, Bali.
Program perdana Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) itu menyasar kawasan 11 pura besar di kawasan hulu DAS Ayung dan DAS Unda.
Targetnya adalah 1.000 hektar kawasan ditanami 125.000 bibit bambu dan pohon.
Kepala Program YBLL Nurul Firmansyah mengatakan, penanaman perdana di Lempuyang Madya jadi titik awal keberhasilan konsep Bambuloka.
“Kegiatan ini adalah semacam penerapan Bambuloka pertama di Pura Lempuyang. Intinya, proses ini sangat baik karena pihak pura telah menyepakati penanaman bambu untuk memperkuat aspek spiritualitas pura,” kata Nurul.
Menurutnya, status kepemilikan bambu sepenuhnya dikelola pihak pura dan komunitas adat setempat. YBLL sebagai mitra teknis dan pendamping lapangan untuk menjamin ketahanan hidup tanaman.
“Pengelola Pura Lempuyang membuka jalan, menjadi contoh untuk pura-pura lain,” jelas Nurul.
Secara hidrologis, kata Nurul, YBLL telah melakukan identifikasi lokasi yang efektif untuk menentukan zonasi tanam.
Bambu secara saintifik punya akar serabut yang rapat dan mampu menyerap limpasan air hujan ke dalam akuifer tanah secara masif.
Nurul mengatakan, pemilihan pura bukan kebetulan, karena keterkaitannya dengan fungsi air secara spiritual bagi umat Hindu.
“Saya mengamati ada prinsip kearifan lokal atau prinsip Hindu tentang lingkungan itu tidak terpisah dari spiritualitas umat,” kata Nurul.
Peluncuran program Bambuloka bertepatan dengan pelaksanaan Rahina Purnama Kapat di Pura Lempuyang Madya Banjar Dinas Gamongan, Desa Tiyingtali, Kecamatan Abang, Kabupaten Karangasem. (Way)





