Inflasi Desember di Bali Terdorong Peningkatan Permintaan Libur Akhir Tahun

    


Kepala Kantor Perwakilan wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali Trisno Nugroho - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Provinsi Bali pada bulan Desember 2020 kembali mencatat inflasi 0,68% (mtm), atau lebih tinggi dibanding inflasi nasional yang tercatat sebesar 0,45% (mtm).

Berdasarkan perhitungan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi terjadi di kedua kota perhitungan yaitu kota Denpasar sebesar 0,62% (mtm) dan kota Singaraja (1,08%, mtm).

Kepala Kantor Perwakilan wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Provinsi Bali Trisno Nugroho mengatakan, inflasi Bali sepanjang tahun 2020 tercatat sebesar 0,80% (yoy), atau lebih rendah dibandingkan dengan inflasi nasional yang sebesar 1,68% (yoy).

“Inflasi ini juga tercatat sebagai inflasi terendah di Provinsi Bali,” kata Trisno dalam siaran tertulis, Senin, 4 Januari 2021.

Dijelaskan, peningkatkan inflasi di bulan Desember, terjadi terjadi karena adanya peningkatan harga seluruh kelompok barang, sejalan dengan peningkatan permintaan di tengah libur akhir tahun.

Hal ini tercermin dari meningkatnya harga bahan makanan seperti cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, termasuk harga yang diatur pemerintah seperti tarif angkutan udara serta harga perlengkapan upacara keagamaan canang sari.

Meskipun demikian, tekanan harga lebih mendalam tertahan dengan berlanjutnya penurunan harga emas perhiasan dan angkutan antar kota.

Kelompok volatile food mengalami kenaikan harga sebesar 3,18% (mtm) dibandingkan bulan sebelumnya. Peningkatkan harga terlihat untuk komoditas cabai rawit, daging ayam ras, cabai merah, tomat, dan daging babi.

Peningkatan harga komoditas hortikultura disebabkan oleh menurunnya jumlah pasokan menjelang musim tanam di tengah peningkatan permintaan pada libur panjang di akhir tahun 2020. Selanjutnya, peningkatan harga juga disebabkan oleh rendahnya pasokan daging babi sebagai dampak berkelanjutan dari virus yang menyerang ternak babi di tahun 2020.

Kelompok barang administered price mencatat peningkatan harga sebesar 0,23% (mtm). Peningkatan tekanan harga pada kelompok ini, disebabkan oleh naiknya tarif angkutan udara sejalan dengan adanya cuti bersama di akhir tahun 2020. Adapun peningkatan lebih lanjut tertahan oleh turunnya tarif angkutan antar kota.

Kelompok barang core inflation mencatat peningkatan harga sebesar 0,25% (mtm) dibandingkan dengan bulan November. Naiknya tekanan inflasi ini terjadi terutama pada canang sari, laptop/notebook, dan air kemasan.

Sedangkan, harga canang sari meningkat seiring dengan peningkatan kegiatan keagamaan dan pembukaan hotel dan villa di akhir tahun. Namun demikian, kata Trisno, peningkatkan lebih lanjut tertahan oleh penurunan harga emas perhiasan.

“Penurunan harga emas perhiasan sejalan dengan turunnya harga emas dunia pasca redanya ketidakpastian ekonomi global. Selain itu, masih rendahnya pendapatan masyarakat juga menyebabkan penurunan permintaan terhadap barang tahan lama dan barang tersier, seperti mainan anak,” jelas Trisno Nugroho.

Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten/Kota dan Provinsi terus berupaya untuk menjaga kestabilan pasokan dan harga di masyarakat diantaranya, meningkatkan penyerapan komoditas pertanian dengan berbagai program, seperti Pasar Gotong Royong.

Selain itu, TPID juga akan melakukan gerakan Lumbung Pangan untuk memastikan distribusi kepada seluruh lapisan masyarakat di Bali dan mendorong digitalisasi pada UMKM pertanian.

“Bank Indonesia memperkirakan inflasi pada Januari 2021 akan tetap terkendali,” terangnya.

Meski demikian, tingginya curah hujan di Bali perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan harga kelompok barang volatile food.

“Menghadapi potensi tantangan tersebut, Bank Indonesia Provinsi Bali tetap konsisten menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah Daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID),” kata Trisno Nugroho. (Way)