KORANJURI.COM – Bank Indonesia memprediksi inflasi di bulan Oktober 2022 lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya.
Tekanan inflasi diperkirakan bersumber dari dampak lanjutan kenaikan harga BBM.
Termasuk, kenaikan harga beras seiring berakhirnya musim panen, serta kenaikan harga ikan akibat tingginya curah hujan dan gelombang laut.
Kepala Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho mengatakan, inflasi bulanan Provinsi Bali yang lebih rendah dari nasional berkat upaya Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi dan Kabupaten/Kota di Bali.
“TPID mendorong penurunan harga kelompok volatile foods, terutama komoditas hortikultura, serta second round effect terhadap harga komoditas kelompok core inflation,” jelas Trisno Nugroho, Rabu, 5 Oktober 2022.
Secara rinci, kelompok administered price (AP) mengalami lonjakan inflasi sebesar 6,88% (mtm) atau lebih tinggi dari bulan sebelumnya sebesar 0,31% (mtm).
Tekanan inflasi bersumber dari kenaikan harga BBM non subsidi per 3 September 2022. Kemudian, kenaikan tarif angkutan antar kota, bahan bakar rumah tangga, rokok kretek filter, dan rokok putih.
Di sisi lain, komponen yang menahan laju inflasi adalah tarif angkutan udara. Hal itu sejalan dengan tren penurunan harga minyak global serta menurunnya permintaan tiket pesawat.
Sementara, kelompok core inflation tercatat mengalami deflasi sebesar -0,14% atau berbalik arah dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,54% (mtm).
“Deflasi pada kelompok tersebut dipengaruhi oleh menurunnya permintaan canang sari sejalan dengan berkurangnya intensitas upacara keagamaan,” kata Trisno.
Kelompok volatile food mengalami deflasi sebesar -3,33% (mtm) atau lebih tinggi
dibandingkan deflasi pada bulan sebelumnya sebesar -3.74% (mtm).
Deflasi volatile food didorong oleh penurunan harga bawang merah, tomat, dan cabai merah seiring dengan masih berlangsungnya musim panen di sentra produksi di Kabupaten Bangli.
Selain itu, deflasi juga bersumber dari penurunan harga minyak goreng seiring dengan tren penurunan harga CPO global, penurunan harga daging ayam ras akibat tingginya impor Day Old Chicken (DOC) beberapa bulan yang lalu.
“Laju deflasi kelompok volatile foods tertahan oleh kenaikan harga beras akibat berakhirnya musim panen dan curah hujan yang tinggi,” jelasnya. (Way)
Baca Artikel Lain KORANJURI di GOOGLE NEWS





