Pola Sewa Wisatawan Berubah, Indeks Properti Komersial Bali Anjlok -4,99%

oleh
Properti pariwisata di wilayah selatan tetap tumbuh di tengah isu alih fungsi lahan yang kini menjadi persoalan yang dihadapi Pulau Bali - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Pergeseran pola sewa wisatawan mempengaruhi kenaikan rata-rata harga bulanan apartemen dan ritel di Bali. Wisatawan asing di Bali kini lebih memilih masa tinggal lebih singkat.

Kondisi itu menjadi penyumbang penurunan indeks harga properti komersial di Provinsi Bali, anjlok -4,99% pada triwulan II 2026.

Meski, survei Bank Indonesia Provinsi Bali mencatat penurunan indeks pada triwulan kedua naik tipis, dibandingkan triwulan pertama yang terkontraksi lebih dalam sebesar -5,85% (yoy).

“Pola tinggal bulanan wisatawan umumnya dikenakan tarif lebih tinggi dibandingkan skema sewa jangka panjang, sehingga mendorong kenaikan rerata harga sewa,” kata Kepala Perwakilan wilayah Bank Indonesia (KPwBI) Bali Achris Sarwani, Kamis, 13 Agustus 2026.

Penyewa apartemen cenderung memilih masa tinggal yang lebih singkat, dari semula 6-12 bulan menjadi 1-2 bulan. Hal itu disebabkan tersedianya pilihan akomodasi lain seperti, vila dan resort dengan fasilitas yang lebih baik.

Penurunan harga terutama dipengaruhi oleh koreksi harga hotel sebesar -5,25% (yoy) dan perkantoran sewa sebesar -2,51% (yoy). Sedangkan harga apartemen dan ritel sewa masing-masing naik sebesar 20,27% (yoy) dan 0,03% (yoy).

Pada segmen perhotelan, tekanan kompetisi dan tingginya sensitivitas harga wisatawan domestik, menurunkan volume permintaan.

“Di samping, saat ini kunjungan wisatawan mancanegara masih terbatas akibat dinamika geopolitik global,” ujarnya.

Selain itu, Indeks Permintaan Properti Komersial Provinsi Bali pada triwulan kedua 2026 juga terkontraksi sebesar -5,50% (yoy). Pada triwulan pertama lebih dalam lagi -9,27% (yoy).

“Sejumlah responden hotel berbintang tetap melakukan penambahan kamar sebagai strategi jangka panjang untuk mengakomodasi prospek kunjungan wisatawan,” kata Achris.

Kinerja sektor properti komersial Bali diperkirakan ditopang oleh perbaikan sektor pariwisata saat masuk periode peak season kunjungan wisman, terutama, dari Australia. (Way)