Minimalkan Resiko Bencana, FPRB Terbentuk di Bali

    


Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra (kiri) bersama Ketua Badan Penanggulangan Bencana (BNPP) Pusat Letjen TNI Ganip Warsito - foto: Istimewa

KORANJURI.COM – Pulau Bali menjadi salah satu wilayah dengan geografis kebencanaan yang tinggi. Kemalangan yang disebabkan oleh alam itu sempat mewarnai Pulau Seribu Pura sepanjang tahun dan terkini, lindu dengan episentrum di Kabupaten Karangasem, Bali.

Ketua Badan Penanggulangan Bencana (BNPP) Pusat Letjen TNI Ganip Warsito menyebut letusan Gunung Agung di tahun 2017 banyak menimbulkan kerugian.

Setidaknya ada 40 ribu orang harus dievakuasi. Bandara I Gusti Ngurah Rai tutup yang berdampak pada 400 penerbangan dan sedikitnya 59 ribu calon penumpang batal terbang.

“Gempa di Karangasem juga menyebabkan longsor di Desa Trunyan pada 16 Oktober 2021 lalu, ini yang harus diwaspadai setiap saat,” kata Ganip, Selasa (26/10/2021).

Ganip memberikan apresiasi atas terbentuknya
Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Bali. Dalam konteks tersebut Ganip menilai komunitas menjadi ujung tombak penanggulangan bencana di daerah.

“Sehingga pesan kesiapsiagaan bisa lebih cepat dan tepat tersampaikan,” ujarnya.

Sementara, Sekda Provinsi Bali Dewa Made Indra menambahkan, peran Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) dan deklarasi Gojek Peduli Bencana se-Bali di Gianyar, dapat menjadi partner pemerintah dalam penanggulangan bencana.

“Baik dalam melakukan sosialisasi kebencanaan kepada masyarakat maupun kegiatan di lapangan saat bencana terjadi,” kata Dewa Indra.

Untuk mengantisipasi pra Blbencana, bencana dan pasca bencana diperlukan koordinasi yang baik dari pemerintah, komunitas dan juga masyarakat.

“Sehingga masyarakat kita merasa terlindungi dan merasa aman ketika terjadi bencana,” jelasnya. (Way)