Implementasikan P5, SMPN 29 Purworejo Adakan Festival Empon-empon

    


Kepala SMPN 29 Purworejo Hidayat Nurhamid, M.Pd., saat meninjau Festival Empon-empon sebagai Warisan Nenek Moyang, yang diselenggarakan oleh siswa kelas 7, Sabtu (24/09/2022) - foto: Sujono/Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Untuk mewujudkan P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) yang telah dirumuskan dalam Kurikulum Merdeka, SMPN 29 Purworejo yang beralamat di Banyuasin Kembaran, Loano, mengadakan Festival Empon-empon sebagai Warisan Nenek Moyang, Sabtu (24/09/2022).

Festival tersebut, merupakan wujud dari siswa mempresentasikan apa yang dia pelajari, yaitu, mempelajari berbagai macam ragam dan jenis empon-empon, mengetahui manfaat dan sebaginya, kemudian dicoba untuk mengolahnya menjadi suatu produk yang bermanfaat untuk kesehatan.

Menurut Kepala SMPN 29 Purworejo, Hidayat Nurhamid, M.Pd., dari hasil pengolahan ini kemudian siswa berlatih mengemas menjadi suatu produk yang menarik dan higienis, sehingga akan berdampak pada nilai benefit.

“Dari hasil keseluruhan ini, kemudian difestivalkan. 111 siswa kelas 7 menjadi peserta dalam festival ini, yang dibagi menjadi kelompok-kelompok,” jelas Hidayat, yang meninjau langsung pelaksanaan festival tersebut.

Setiap kelompok, menampilkan minimal 10 hasil olahan empon-empon, seperti beras kencur, lemon grass, wedang jahe, kunir asem, permen jahe dan produk lainnya. Para siswa ini, benar-benar berlatih membuat sendiri dari pengetahuan yang mereka pelajari.

Semua dilakukan siswa, dari menata tempat/display, presentasi, membawakan acara hingga membuat undangan untuk guru menghadiri festival tersebut. Kegiatan Festival, diakhiri dengan minum bersama yang diikuti semua peserta, dengan meminum produk yang dihasilkan dari empon-empon tersebut

“Kegiatan ini, merupakan salah satu Implementasi Kurikulum Merdeka, pelaksanaan dari Profil Pelajar Pancasila. Temanya kearifan lokal dengan topik ekplorasi empon-empon warisan nenek moyang,” jelas Hidayat, yang didampingi Estu Widiana Kasih, M.Pd., selaku fasilitator dalam projek tersebut.

Dalam Projek tersebut, menurut Estu, diambil tiga kegiatan, yakni, menginisiasi, mencipta dan mendedikasi. Dimulai dari siswa melakukan eksplorasi yang diawali dengan studi literatur dari perpustakaan dan Google, yang dilanjutkan dengan melakukan Field Trip ke Purwodadi, di perkebunan Empon-empon. Siswa mencari informasi sebanyak-banyaknya langsung ke narasumber petani empon-empon.

“Dilanjutkan pada hari berikutnya dengan mengklarifikasi/mengkonfirmasi antara studi literatur dan Field Trip tadi. Kemudian mereka membuat suatu formula yang menurut siswa pas dibuat produk untuk kesehatan,” ujar Estu.

Pada Jum’at (23/09/2022), kata Estu, siswa sudah membuat produk sesuai formula mereka. Hal itu ditindaklanjuti dengan meminta masukan dari exspert, yakni bapak ibu guru yang ahli dalam bidang itu, serta masyarakat. Dengan cara membagikan sampel dan mereka (expert dan masyarakat) diminta mencicipi formula siswa.

Siswa juga membagikan kuisioner, yang isinya tentang saran atau masukan terkait produk tersebut. Dari masukan expert itu, akhirnya siswa membuat formula. Dan jadilah festival Empon-empon sebagai warisan nenek moyang

“Ini merupakan pembelajaran projek selama 53 jam pelajaran,” ungkap Estu.

Nilai yang bisa diambil dari pembelajaran projek terkait dengan profil Pelajar Pancasila, menurut Estu, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan YME (bersyukur bahwa di Indonesia memiliki banyak empon-empon), bernalar kritis (ternyata empon-empon memiliki manfaat yang luar biasa bagi kesehatan), mandiri (ketika menjadi panitia festival dan saat menjalani tahapan-tahapan pembelajaran projek), kreatif (setiap tahapan yang harus dikumpulkan bukan berupa kertas seperti dulu, tapi mengumpulkan semua tugas berbentuk aplikasi canva).

“Dari pembelajaran projek itu, kita tanamkan nilai pelajar Pancasila kepada siswa,” pungkas Estu. (Jon)

Baca Artikel Lain KORANJURI di GOOGLE NEWS