Forkom Tite Hena, Makna dalam Kultur Warga Flores Timur dan Lembata, NTT

    


Deklarasi Forum Komunikasi Tite Hena dihadiri oleh Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati, Minggu, 27 Februari 2022 - foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – Masyarakat keturunan Kabupaten Flores Timur dan Lembata di Bali, mendeklarasikan Forum Komunikasi (Forkom) Tite Hena di kawasan wisata Sanur Bali, Minggu (27/02/2022). Tite Hena dalam bahasa kultur orang Flores Timur dan Lembata bermakna ‘Kita Semua Satu’.

Pemilihan waktu deklarasi pada 27 Februari 2022 menjadi sakral. Mengingat, pada hari yang sama 43 tahun lalu, terjadi tragedi tsunami yang menerjang wilayah Larantuka, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sekretaris Panitia Deklarasi Apolonaris Klasa Daton mengatakan, Tite Hena menggambarkan masyarakat hidup berbudaya dan semakin lengkap sebagai masyarakat modern yang berbudaya.

“Karena itu kami mengisi deklarasi ini dengan orasi kebudayaan oleh pak Usman Kansong yang juga keturunan Flores Timur. Selain itu, pak Wagub Bali yang juga tokoh budaya dari Puri Ubud,” kata Apolo, Minggu, 27 Februari 2022.

Salah satu deklarator Achmad Peten Sili menuturkan, setiap insan manusia, selalu ada sisi aktif dan sisi pasifnya. Oleh karena itu, pemilihan kalimat tulus dalam persaudaraan merupakan sisi aktif seorang manusia. Sementara kalimat ikhlas dalam kebersamaan menggambarkan sisi pasif manusia sebagai makluk sosial.

“Dalam persaudaraan itu, tidak memandang siapapun. Orang Bali dan masyarakat Flores Timur-Lembata semuanya saudara. Ada kewajiban untuk ikut memikirkan dan bertanggungjawab atas nilai-nilai keharmonisan, kesejahteraan dan kebahagiaan diantara kita,” kata Peten Sili.

Deklarator lainnya Umar Ibnu Alkhatab yang juga saat ini menjabat Kepala Ombudsman RI Provinsi Bali mengatakan, forum ini merupakan wadah masyarakat dua kabupaten di Flores yang memiliki kultur dan budaya yang sama.

“Sebagai masyarakat perantau yang memiliki kultur budaya yang sama, perlu adanya wadah seperti Forkom Tite Hena Bali ini. Oleh karena itu, berkomunikasi menentukan kualitas hubungan yang dibangun,” kata Umar.

Direktur Jenderal Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Kementerian Kominfo Usman Kansong dalam orasi kebudayaan mengungkapkan, semangat egaliterisme perlu disebarkan. (Way)