Benang Merah Perekonomian Nasional dari Buku ‘Ekonomi Indonesia Dalam Lintasan Sejarah’

    


Foto: Koranjuri.com

KORANJURI.COM – ‘Ekonomi Indonesia Dalam Lintasan Sejarah’, menjadi salah satu buku karya Prof. Dr. Boediono yang penting untuk dibaca oleh mereka yang ingin memahami perjalanan perekonomian bangsa.

Buku setebal 312 halaman itu mengupas tentang dua hal besar dari perjalanan ekonomi Indonesia di masa sebelum kemerdekaan dan setelah kemerdekaan.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Trisno Nugroho mengungkapkan kesannya dari buku yang kini menjadi salah satu koleksi di Perpustakaan Bank Indonesia.

Menurut Trisno Nugroho, secara jeli, mantan Wapres yang juga salah satu ekonom Indonesia itu, mengulas tentang protokol krisis. Jika ditarik dalam kondisi sekarang , protokol krisis itu dibutuhkan untuk menjaga ekonomi di tengah isu meluasnya Coronavirus.

Di Bali, kesiapan protokol krisis dalam menjaga stabilitas ekonomi sangat diperlukan. Mengingat, menurut Trisno Nugroho, Bali sangat mengandalkan ekonominya dari sektor pariwisata. Sedangkan jumlah turis Tiongkok yang datang ke Bali periode Januari-Desember 2019 sebanyak 1.196.497 orang.

“Buat saya, protokol krisis itu, dalam situasi sekarang, bisa kita jabarkan bahwa kita harus siap-siap bagaimana mengantisipasi menurunnya kunjungan wisatawan, terutama dari Tiongkok,” jelas Trisno Nugroho, Rabu, 29 Januari 2020.

‘Ekonomi Indonesia Dalam Lintasan Sejarah’ menurut Trisno, memberikan catatan tentang sasaran politik pada suatu masa, tidak selalu sejalan dengan sasaran ekonomi pada waktu yang sama. Bangsa Indonesia selalu dihadapkan pada pilihan atau trade off dari dua sasaran tersebut.

“Tugas pengelola negara adalah menjaga agar setiap saat kedua sasaran tersebut tidak melenceng terlalu jauh,” tambahnya.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia
Destry Damayanti juga menyampaikan kesannya tentang buku yang terbit perdana tahun 2017 itu. Menurut Destry, membaca ‘Ekonomi Indonesia Dalam Lintasan Sejarah’ serasa membuka lagi tentang sejarah perekonomian Indonesia bukanlah sebuah cerita yang dapat dikotak-kotakan.

Dikatakan Destry, perekonomian Indonesia masa lalu dan sekarang menjadi rangkaian perjalanan yang membentuk identitas Indonesia sebagai bangsa yang utuh.

“Hanya saja, seperti bagian
dalam buku ini, kita harus dapat mengambil renungan dalam setiap
pembelajaran, agar bangsa ini dapat menjadi bangsa yang maju dengan
pertumbuhan ekonomi yang berkualitas,” kata Destry.

Acara bedah buku juga menghadirkan Prof. Dr. Boediono sebagai narasumber. Sebelumnya, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti meresmikan Perpustakaan Bank Indonesia yang saat ini menempati ruang baru. (Way)