KORANJURI.COM – Kemarau yang berlangsung lebih panjang menyebabkan kekeringan di sejumlah wilayah di Bali. Pertanian menjadi sektor yang paling terdampak akibat fenomena alam yang dipengaruhi oleh El Nino.
Tiga subak di yang ada di wilayah Kabupaten Jembrana merasakan dampak musim kemarau tahun ini menjadi kerugian ekonomi. Tanaman padi yang digarap 27 petani tidak menerima pasokan air irigasi yang cukup.
- 27 petani gagal panen akibat kemarau: Kemarau panjang yang dipengaruhi El Nino membuat 3 subak di Jembrana kekurangan air irigasi, padi milik 27 petani di Subak Peh, Pangkung Buluh, dan Subak Tegal Jati gagal panen.
- Wagub serahkan bantuan langsung: Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta menyerahkan bantuan kepada 4 perwakilan petani, I Ketut Kaler Rp20 juta, I Ketut Waca Rp15,6 juta, I Ketua Malya Rp8,9 juta, dan I Made Winata Rp8,4 juta.
- Solusi jangka panjang tanam pohon di hulu: Giri Prasta meminta penghijauan di kawasan hulu Bendungan Benel dan Palasari untuk menjaga debit air irigasi dan mengurangi ketergantungan petani pada sumur bor.
Puluhan petani di subak Peh Pangkung Buluh, dan Subak Tegal Jati mengalami gagal panen.
I Ketut Kaler, seorang petani mengeluhkan berkurangnya debit air irigasi, mulai dari menurunnya debit air, kerusakan saluran hingga harga jual hasil pertanian yang tidak berpihak pada petani.
“Kami berharap pemerintah memberikan perhatian terhadap stabilitas harga hasil pertanian,” kata Kaler saat berbincang dengan Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta.
Pemerintah Provinsi Bali bergerak cepat mengatasi dampak kekeringan yang membuat sejumlah petani mengalami gagal panen.
Wakil Gubernur Bali I Nyoman Giri Prasta mengatakan, pemerintah memberikan perhatian terhadap kondisi petani yang mengalami kerugian akibat kekeringan.
“Kita tidak ingin para petani yang sudah bekerja keras justru menghadapi kesulitan tanpa mendapatkan perhatian,” kata Giri Prasta di Jembrana, Kamis (5/11/2026).
Pemprov Bali menyerahkan bantuan secara simbolis kepada 4 perwakilan petani antara lain, I Ketut Kaler sebesar Rp20 juta, I Ketut Waca sebesar Rp15,6 juta, I Ketua Malya sebesar Rp8,9 juta, dan I Made Winata sebesar Rp8,4 juta.
“Semoga bantuan ini dapat mengurangi beban masyarakat petani yang terdampak gagal panen,” ujar Giri Prasta.
Penurunan debit air irigasi, kata Giri Prasta, perlu dijaga melalui penghijauan dan penanaman pohon.
Kabupaten Jembrana memiliki kawasan hulu berupa bendungan Benel dan Palasari. Konservasi kawasan hulu dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan pasokan air irigasi. Sekaligus, mengurangi ketergantungan petani terhadap penggunaan sumur bor.
“Kita harus mulai melakukan penanaman pohon yang mendukung kelestarian sumber air di kawasan hulu bendungan. Ini untuk kepentingan jangka panjang, bagi anak cucu dan generasi mendatang,” ujarnya. (Way)





