KORANJURI.COM – Cisuak atau tradisi tolak bala warga Tionghoa ini diyakini berfungsi sebagai cara menetralisir ketidakberuntungan pada setiap tahun baru Imlek.
Tahun Baru 2557 Kongzili merupakan tahun Kuda Api, yang tidak hanya membawa keberuntungan, tapi juga kesialan bagi shio-shio tertentu.
Ketua Pengurus Klenteng Caow Eng Bio di Tanjung Benoa, Kuta Selatan, Badung, Bali, Juanda Aditya mengatakan, tradisi Cisuak di Klenteng tertua di Bali itu akan digelar pada 21-22 Februari 2026.
“Tahun kuda api ini kan ada shio yang ciong, dalam artian shio yang sial. Empat shio yang paling keras sialnya yang saya tahu, shio kerbau, kelinci, shio tikus, bahkan shio kuda pun juga masuk,” jelas Juanda, Selasa, 17 Februari 2026.
Shio yang lagi sial tersebut, dalam tradisi Tionghoa, harus melakukan persembahyangan yang disebut Cisuak. Umat yang merasa punya shio kurang beruntung di Tahun Kuda Api, mendaftarkan diri untuk mengikuti Cisuak di Klenteng Caow Eng Bio.
Selama dua hari pelaksanaan Cisuak, peserta akan mengikuti prosesi dengan bersembahyang di pantai dan di dalam Klenteng.
“Sampai saat ini sudah tercatat ada 36 peserta yang mendaftarkan diri ikut sembahyang Cisuak, nanti ada prosedurnya,” kata Juanda Aditya.
Klenteng Caow Eng Bio di pesisir Selatan Pulau Bali, Tanjung Benoa, merupakan Klenteng tertua di Bali yang diperkirakan berdiri tahun 1548, atau dua dekade setelah Kerajaan Majapahit runtuh pada 1527.
Meski tidak memiliki bukti historis, namun Klenteng ini dikisahkan sudah ada sejak masa Kerajaan Badung 1548.
Menariknya, di kawasab Klenteng Caow Eng Bio ini, ada sebuah bangunan yang menyimpan sebagai peninggalan penting di Indonesia.
Keberadaannya sempat disembunyikan pada masa Orde Baru. Karena dalam prasasti tersebut memuat aksara Cina. (Way)






