KORANJURI.COM – Untuk merubah mindset guru dan siswa dalam pembelajaran Kurikulum Merdeka, SMK TI Kartika Cendekia Purworejo mengadakan Workshop Penguatan Karakter Berbasis Mindset Change melalui Gerakan Sekolah Menyenangkan atau GSM Indonesia, Sabtu (15/10/2022).
Menghadirkan narasumber Muhammad Ali Sodikin, S.Pd., seorang mentor GSM Indonesia, pakar budaya kerja dan 5R, guru dari SMKN 1 Jambu, Semarang, workshop diikuti oleh 66 peserta perwakilan siswa dan guru.
“Selain luring, workshop juga diikuti 350 an siswa secara daring di rumah masing-masing.
Peserta yang luring ini kita konsepkan sebagai agen perubahan dari gerakan sekolah menyenangkan yang di dalamnya juga nanti agen anti perundungan,” jelas Kepala SMK TI Kartika Cendekia Purworejo, Agus Setya Ardiyanto, A.Md., di sela kegiatan.
Dengan adanya Kurikulum Merdeka yang diterapkan Kemendikbudristek, kata Agus, bahwa paradigma-paradigma pembelajaran harus berubah, dimana sekarang pembelajaran adalah terpusat kepada peserta didik/siswa.
Jadi, lanjut Agus, tidak model pembelajaran jaman dulu, dimana selalu guru yang menyampaikan materi. Tapi saat ini, terjadi komunikasi yang positif antara guru dan siswa atau peserta didik. Jadi siswa sekarang porsinya lebih besar dalam pembelajaran.
“Jadi guru hanya memfasilitasi proses tumbuh kembangnya peserta didik, karena anak-anak itu kan mempunyai potensi masing-masing dan tidak bisa disamakan,” ungkap Agus.
Ditegaskan lagi oleh Agus, bahwa mindset guru dan siswa harus dirubah melalui gerakan setelah menyenangkan. Semisal dalam prosedur pembelajaran itu terjadi interaksi, terjadi komunikasi antara guru dan siswa, seolah-olah sekolah itu seperti rumah kedua bagi siswa.
“Saya yakin, anak-anak dengan orang tua di rumah ada komunikasi yang sangat baik, kasih sayang. Dan itu harus terjadi di sekolah agar anak itu di sekolah senang,” terang Agus.
Dia berharap, siswa akan senang di sekolah, dan dari sekolah akan memfasilitasi apa yang dibutuhkan oleh siswa, baik itu hobi mereka dalam ekstra ataupun dalam konteks skill mereka, dalam konsentrasi keahlian atau jurusan masing-masing.
Jadi sekolah itu bukan tempat yang menakutkan, bukan hanya sebatas formalitas berangkat, ada di sekolah pulang selesai. Tapi dia di sekolah itu seperti di rumah, bisa beraktivitas, bisa berkomunikasi sama rekan teman sebaya, dengan guru, sehingga akan merasa nyaman dan menyenangkan.
“Guru juga difasilitasi. Misal butuh bandwidth internet untuk pengembangan kompetensi. Mereka bisa mengembangkan kreatifnya, dengan kita fasilitasi studio foto dan video, ada studio podcast agar dia bisa berkreatif. Nanti kita juga arahnya akan menggandeng para para pakar wirausaha muda untuk mengisi bagaimana berwirausaha, menumbuhkan sifat-sifat wirausaha itu kepada anak juga kepada guru,” ujar Agus.
Implementasi dari adanya gerakan sekolah menyenangkan ini, kata Agus, di SMK TI Kartika Cendekia Purworejo akan disesuaikan dengan fungsi keberadaan para wakil kepala sekolah, yakni, Waka Kurikulum, Waka Sarana Prasarana, Waka Kesiswaan dan Waka Humas.
“Dari waka-waka tadi, akan membuat atau melaksanakan program dan kegiatan agar siswa merasa senang berada di sekolah, menyesuaikan bidang masing-masing,” pungkas Agus. (Jon)
Baca Artikel Lain KORANJURI di GOOGLE NEWS





